Kamis, 21 Juni 2007

Buddhist feng shui temple bells are a very significant part of the temple or of the bells depending on how you approach the situation. There is an ancient Chinese proverb that states that if there is a temple, there is a bell and where there is a bell, there is a temple. The Buddhist feng shui temple bells are regarded by the Chinese as extremely sacred and with great feeling the sound of the Buddhist feng shui temple bells is in itself, a sound that cries out the need and desire for peace and balance among all living things on earth.

Different Types of Buddhist Feng Shui Temple Bells

There are several types of Buddhist feng shui temple bells that one can purchase and incorporate into his or her own ‘temple’ and they are relatively inexpensive also. The bells ringing have since long ago symbolized the purification that is taking place within the sacred place that houses the temple bells as well as the desire for balanced lives. ‘Chi’ is the flow of energy that is ever present although invisible and feng shui temple bells were created to assist the flow of energy throughout the ‘temple’ also.

A very popular Buddhist feng shui temple bell is called the Buddha Blessing Bell and it is rafted after the well-known and respected leader, Buddha. Buddha has been thought to be the world’s greatest teacher in the religious spectrum due to his empowering beliefs that the human mind was mighty in strength and could achieve things that most common people believed were completely unachievable. The Buddhist feng shui temple bells were created in his memory to continue on his amazing teachings with the spirit and the drive that he had and these bells are believed to bring balance and harmony.

There is Buddhist feng shui temple bells that are also geared at other aspects of your life such as wealth. Wealth is something that most people crave their entire lives and very seldom achieve it and in order to create that positive energy flow that creates wealth, a Buddhist feng shui temple bell was invented to promote wealth especially for small store owners who would hang these temple bells directly over the cash register as a symbol of good fortune, protection against the unknown as well as luck. Ancient Chinese store owners would often hang Buddhist feng shui temple bells at the front door entrance to the store or restaurant to inspire and encourage the positive flow of energy both in and out of the store.

Read More..

RIWAYAT SHAKYAMUNI BUDDHA bagian 2

1.11. Bertemu Dengan Seorang Pertapa.

Buddha Gautama telah menyelesaikan tugas utamanya, dan sekarang Dia dengan tenang dan penuh keagungan pergi berkelana sendirian. Tapi sesungguhnya para deva, Bodhisattva, dan Buddha selalu mendampingi Dia.

Ada seorang pertapa yang sungguh-sungguh berniat mempelajari Dharma. Ketika dia melihat Buddha Gautama di jalan, karena keheranan dia bersikap anjali dan berkata kepada-Nya,

“Perasaan orang lain tiada henti-hentinya bagaikan kuda, tapi perasaan-Mu telah dijinakkan. Makhluk lain memiliki hawa nafsu, tapi hawa nafsu-Mu telah berhenti. Tubuh-Mu bersinar bagaikan bulan di langit pada malam hari. Anda muncul dengan Kebijaksanaan baru. Paras-Mu mencerminkan intelektual. Anda telah menguasai perasaan-Mu dan memiliki mata bagaikan seekor sapi jantan yang sangat kuat. Tiada diragukan lagu, Anda telah mencapai tujuan-Mu. Siapa guru Anda, dan siapa yang telah mengajarkan Anda kebahagian yang luar biasa ini?”

Buddha Gautama menjawab, “Saya tidak mempunyai guru. Tidak satupun yang perlu saya muliakan, dan tiada seorang jua Saya harus memandang rendah. Nirvana telah saya peroleh dan saya tidak sama seperti yang lainnya. Saya tenang oleh Saya sendiri sebagaimana engkau lihat sendiri, karena saya telah menguasai Buddha Dharma. Secara sempurna Saya telah mengerti apa yang harus di mengerti hal itu. Itulah alasan mengapa Saya adalah seorang Buddha.”

Setelah mendengarkan penjelasan itu, pertapa itu pergi, walaupun dia melihat Hyang Buddha dengan penuh keheranan.

1.12. Pertemuan Dengan Lima Orang Pertapa.

Yang Maha Bijaksana tiba dikota Kashi, melihat kota ini menyerupai daerah pedalaman bagaikan suatu bunga rampai. Kota Kashi yang terletak diantara dua sungai, Sungai Bhagirathi dan Varanasi, yang saling bertemu seperti sepasang kekasih yang bersatu. Beliau dengan tubuh gemerlapan yang penuh keagungan, bersinar bagaikan sinar matahari, Dia pergi ke Taman Rusa. Taman Rusa ini sering dikunjungi oleh para pertapa besar. Diwaktu malam terdengar jelas gemerisik suara pohon-pohon dan gema dari bunyi burung-burung elang malam ditaman tersebut.

Yang mendiami taman ini adalah kelima pertapa yang bernama yang bernama Ajnata Kaundiya, Mahanaman, Vaspha, Asvajit, dan Bhadrajit. Ketika mereka melihat Dia dari kejauhan, mereka berkata satu sama lainnya, “Itulah teman kita yang dulu simpatik dan baik, pertapa Gautama, yang menyerah atas kekerasan. Bila dia datang kepada kita, sudah tentu jangan menemuinya. Jelas dia tidak berharga untuk disalami. Orang-orang yang telah melanggar janjinya tidak patut mendapat hormat.” “Sudah pasti, jika dia ingin berbicara dengan kita, marilah kita dengan segala cara jangan menghiraukan dia. Bagi orang suci tidaklah perlu menghargai para pengunjung, siapapun mereka yang tidak taat pada disiplin.”

Para pertapa itu, ketika Hyang Buddha datang menghampiri mereka dengan segera membatalkan rencana semula. Semakin dekat Dia datang, semakin lemah niat mereka untuk menghindar. Salah satu mengambil jubahnya, yang lain datang yang lain dengan tangan melipat mengeluarkan mangkuk-untuk-meminta-minta, yang ketika menawarkan tempat duduk yang layak, dan yang dua lagi memberikan air untuk mencuci kaki-Nya.

Dengan sikap hormat yang bermacam-macam ini, mereka memperlakukan Dia sebagai guru mereka. Tapi mereka dengan tiada henti-hentinya memanggil Dia dengan nama keluarganya, sebab kelima pertapa itu belum mengetahui bahwa Gautama sekarang ini telah menjadi seorang Buddha.

Gautama memberitahukan bahwa sekarang ini Dia bukan lagi Gautama seperti dulu selagi bersama-sama bertapa, tapi sudah menjadi seorang Buddha. Kelima pertapa itu mengikuti disiplin yang keras saja tidak diindahkan. “Bagaimana mungkin dengan perbuatan dulu itu sekarang Gautama dapat mengerti Kebenaran yang sesungguhnya, “ pikir para pertapa, “apa dasarnya Engkau mengatakan kepada kami bahwa engkau telah melihat Kebenaran?” tanya para pertapa itu.

1.13. Memutar Roda Dharma.

Para pertapa itu tidak mempercayai Kebenaran yang ditemukan oleh Tathagata. Karena Jalan untuk Penerangan yang ditemukan Dia adalah berbeda dari mereka dengan cara latihan kekerasan. Buddha Gautama mengurai secara terinci kepada mereka jalan itu. Jalan itu adalah pengetahuan yang ditemukan dan dialami langsung oleh Dia. Sedangkan ‘orang bodoh hanya menyiksa diri mereka sendiri, dan mereka hanya melekat pada pengendalian perasaan’. Kedua cara ini harus dianggap keliru, sebab cara mereka bukanlah menuju pada jalan yang kekal. Inilah yang dinamakan jalan kekerasan yang membingungkan pikiran sebab lebih dikuasai oleh keletihan tubuh.

Jadilah mereka kehilangan kemampuan untuk dapat mengerti risalah doktrin. Mereka masih banyak kekurangannya. Apakah mereka bersedia mengubah cara mereka hanya dengan penekanan hawa nafsu menuju Ketenangan? Dia telah meninggalkan kedua cara yang ekstrim itu, dan telah menemukan Jalan lain, yaitu Jalan Tengah.

Jalan tengah itu menuju ketentraman dari segala Penderitaan, lagipula Jalan Tengah Itu bebas dari segala Kebahagiaan dan Kesenangan. Hyang Buddha kemudian menguraikan dengan terinci kepada kelima pertapa itu Empat Kesunyataan Mulia’ (Catvari Arya Satyani) dan Delapan Jalan Utama atau Jalan Benar dan Suci sebagai Jalan Tengah (Arya Astangika Marga).
Khotbah Hyang Buddha yang pertama ini di Taman Rusa dikenal dengan nama Pemutaran Roda Dharma (Dharmacakra Pravartana Sutra). Ajnata Kaundiya adalah Bhiksu pertama yang ditahbiskan oleh Hyang Buddha, menyusul keempat temannya.


1.14. Pertemuan Antara Ayah Dengan Anak

Pada suatu hari Hyang Buddha pergi ke Kapilavastu. Dia ingin memberikan Khotbah kepada ayah-Nya tentang Dharma. Beliau juga menunjukkan kemampuan-Nya yang menakjubkan kepada ayah-Nya. Maka hal itu membuat ayah-Nya lebih mantap untuk menerima Dharma. Ayahnya meluapkan kegembiraannya setelah mendengarkan Dharma. Dia melipat tangannya sebagai tanda sebagai tanda hormat dan berkata kepada anaknya, “Bijaksana dan berhasil adalah perbuatan-Mu, dan Engkau telah melepaskan saya dari Penderitaan besar.”

Kesenangan sebagai hadiah dari bumi ini, yang dinikmati oleh kita tiada lain hanyalah duka. Sekarang saya merasa senang mempunyai seorang anak yang berhasil. Engkau benar telah melakukan pekerjaan besar seperti itu. Dan sekarang ini adalah waktu yang tepat untuk-Mu menyelami perasaan terharu kami, sanak keluarga-Mu yang tercinta, yang telah mencintai-Mu dengan penuh kasih sayang, semua itu telah Engkau tinggalkan.

Demi kepentingan dunia yang penuh penderitaan, Engkau telah menempuh kenyataan yang paling benar, yang tidak ditemukan bahkan oleh para pertapa di masa lampau baik oleh para dewa maupun raja.

Jadi Engkau telah memilih jalan untuk menjadi Kepala Alam Semesta, sebagaimana Engkau telah memberikan kepada saya kesenangan yang melebihi segala sesuatu yang pernah saya rasakan, dan dengan menyaksikan kemampuan-Mu yang menakjubkan dan mengenai Dharma-Mu yang suci. “

Ayah-nya melanjutkan ucapannya, “Engkau telah menaklukan penderitaan besar bagi dunia Samsara. Engkau telah menjadi seorang Maha Bijaksana yang telah memproklamirkan dharma demi kebahagiaan dunia. Kemampuan-Mu yang Menakjubkan, intelektual-Mu yang cemerlang, Pelarian diri yang pasti dari bahaya yang tidak terhitung miliknya dunia Samsara. Hal-hal seperti ini telah membuat Engkau menjadi raja yang berdaulat atas dunia, sekalipun tanpa lencana kerajaan.”


1.15. Perjalanan Lebih Lanjut

Sesudah itu Hyang Buddha melanjutkan perjalanan pergi mengunjungi Shravasti. Beliau menunjukkan kemampuan-Nya yang menakjubkan kepada rakyat Shravasti dan menyangkal ajaran-ajaran setempat yang tidak benar. Shravasti memberikan penghormatan besar dan memuja Dia. Hal ini mengingatkan Raja Prasenajit dan menghadiahkan Dia sebuah hutan kecil Jetavana untuk tempat istirahat dan memberikan Khotbah kepada rakyat.

Kemudian Beliau berpisah dengan rakyat Shravasti berhubung Beliau ingin pergi berKhotbah ke tempat lain, yakni ke langit tingkat ke-33, di mana ibu-Nya tinggal.

Dia berjalan tegak dengan penuh keagungan yang mulia dan menakjubkan bagi siapa saja yang melihat-Nya. Dia pergi ke langit untuk menemui ibu-Nya dengan maksud memberikan Khotbah Dharma demi kebaikan ibu-Nya. Pada saat menjelang keberangkatan-Nya, pada raja bumi membungkuk rendah dan muka mereka menengadah ke langit sebagai tanda hormat melepas keberangkatan Beliau. Dengan kemampuan yang dimiliki-Nya, sebentar saja Beliau sudah sampai ke langit tempat tinggal para dewa.

Dalam perjalanan-Nya menuju ke langit tingkat Ke 33, Beliau telah melewati musim hujan di langit, dan menerima derma dari raja dewa yang tinggal di alam non-materi. Sesudah melewati dunia dewa, Dia meneruskan perjalanan-Nya dan pergi ke bawah ke wilayah Samkashya. Para dewa di wilayah ini, setelah menerima kehadiran-Nya , masing-masing memperoleh pendalaman ketenangan dan kemajuan spiritual yang lebih tinggi lagi. Ketika Beliau hendak meninggalkan mereka, para dewa berdiri di depan rumah besar mereka untuk memberikan hormat sebagai tanda ucapan terima kasih. Mata mereka terus mengikuti keberangkatan-Nya sampai Beliau menghilang.

Setelah Beliau sampai di langit K-33 – tempat tinggal ibu-Nya – Buddha Gautama memberikan petunjuk dan Khotbah kepada ibu-Nya dan juga para dewa sekalian yang berada di sana. Yang Maha Bijaksana meluruskan jalan mereka dan semua juga telah siap untuk mendengarkan Khotbah dan petunjuk-Nya karena mereka semua menaruh kepercayaan terhadap Buddha Dharma.
Ibu-Nya – setelah mendengarkan Khotbah-Nya – juga mencapai tingkat Arahat. Setelah selesai memberikan Khotbah dan petunjuk, Beliau kembali lagi ke Bumi.


1.16. Penyebaran Buddha Dharma

Buddha Gautama semasa hidup-Nya selama empat puluh lima tahun terus-menerus menyebarkan Buddha Dharma ke berbagai negeri. Beliau telah pergi menyebar Dharma sampai ke tengah-tengah lembah Sungai Gangga bagian Utara-Timur India, Benares,Uruvela, Rajagraha, Veasali, Sravasti, Kosambi, dan Kapilavastu.

Murid ke enam Buddha Gautama bernama Yasa, anak dari keluarga kaya. Yasa menjadi murid Hyang Buddha karena merasa jijik melihat kesenangan duniawi yang penuh kepalsuan dan kekotoran batin.

Ayah dan ibunya juga menjadi Upasaka dan upasika. Teman-temannya sebanya 54 orang juga menjadi murid Hyang Buddha. Jumlah semua Bhiksu menjadi 60 orang. Semuanya anggota Sangha dan mencapai Arahat (Ariya Sangha). Upasaka dan Upasika yang telah mencapai tingkat Arahat disebut Ariya Punggala. Bhiksu yang anggota Sangha yang belum mencapai tingkat Arahat di sebutSamsuri Sangha. Sangha untuk pertama kali dibentuk oleh Hyang Buddha beranggotakan lima orang yaitu murid-muridnya kelima pertapa itu. Hyang Buddha untuk pertama kali di Taman Rusa (Isipatana) kepada siswa-Nya (60 orang Arahat) anggota sangha mengucapkan Saranataya atau Tisaranagamana Upasampada yang berarti perlindungan ke pada Buddha, Dharma, dan Sangha.

60 bhiksu itu juga menyebarkan Buddha Dharma secara sendiri-sendiri ke berbagai negeri. Karena tiap-tiap negeri di Jambudvipa atau India kaya dengan bahasa-bahasa, maka Hyang Buddha mengijinkan murid-murid-Nya dalam membabarkan Dharma boleh memakai bahasa setempat agar dapat dimengerti oleh para pendengar. Hyang Buddha memberikan nasehat kepada mereka, “oh para bhiksu, majulah terus dalam menyebarkan Buddha Dharma demi kebaikan manusia. Siarkanlah Dharma ini untuk kebahagiaan orang banyak.”
Buddha Gautama sendiri juga menyebarkan Buddha Dharma.

Banyak orang yang telah mendengarkan Buddha Dharma yang dibabarkan oleh para siswa Hyang Buddha ingin menjadi bhiksu juga. Para bhiksu itu membawa mereka yang ingin menjadi bhiksu ke Hyang Buddha. Karena setiap kali bila ada yang ingin menjadi bhiksu terlebih dahulu dibawa ke hadapan Hyang Buddha, atas pertimbangan perjalanan yang jauh dari satu negeri dan kemudahan maka Hyang Buddha mengijikan para siswanya untuk mentahbiskan calon bhiksu dengan syarat mengucapkan Saranataya atau mengulangi Tisarana yaitu Tisaranagamana Upasampada, calon bhiksu harus mencukur rambut, jenggot, kumis, memakai jubah (warna kuning atau coklat), berlutut dan bersikap anjali.

Ada tiga macam Bhiksu, yaitu :
1. Ehi Bhikku yang ditabiskan oleh Hyang Buddha
2. Tisarana Gamana Bhikku yang ditahbiskan oleh siswa Hyang Buddha ( 60 orang Arahat itu).
3. Naticatutthakamma Bhikku yang di tahbiskan melalui sangha (saat setelah Hyang Buddha dan siswanya tidak memberikan pentahbisan lagi.

Untuk keperluan pentahbisan Sangha haruslah 5 orang bhiksu dan semuanya Sthavira atau thera (10 Vasa). Satu stel jubah Bhiksu terdiri dari: satu potong jubah dalam (Ancera rasaka civara), satu potong jubah luar (Uttarasanga Civara), Satu potong jubah atas (sanghari Civara).

Buddha Gautama banyak mendapat dukungan antara lain Raja Bimbisara dari kerajaan Bimbisara (ada juga yang menyebutnya kerajaan Magadha), kerajaan yang pertama kali dikunjungi Beliau. Setelah mendengar Khotbah Hyang Buddha, Raja Bimbisara mempersembahkan Arama Hutan Bambu (Veluvana Rama) bagian selatan Jambudvipa atau India kepada Hyang Buddha dan Sangha untuk tempat istirahat dan sebagai tempat berKhotbah.

Anak Raja Bimbisara bernama Ajatasattu mula-mula menyokong Buddha Gautama, namum kemudian terkena pengaruh dan berkelompot dengan Devadatta. Delapan tahun sebelum parinirvana Hyang Buddha, mereka mencoba membunuh Buddha Gautama, namun semua rencana mereka tidak berhasil.

Penyokong lainnya ialah Raja Kosala dari Visakha, dan hartawan Anathapindika. Karena kemurahan hatinya Anathapindika diingat sebagai kepala dermawan juga dikenal dengan nama Sudatta. Anathapindika memberi hutan Jetavana dekat savatthi dan mendirikan vihara bagi para bhiksu. Anathapindika selama hidupnya sangat menyokong dan mengorbankan harta bendanya untuk perkembangan Agama Buddha.

Dalam tahun itu juga setelah Beliau mencapai Penerangan, Buddha Gautama kembali ke Kapilavastu, disamping memberikan Khotbah kepada rakyat Kapilavastu, dan ayah-Nya, Suddhodana, yang kemudian hari menjadi Arahat dan masuk ke surga Sotapanna. Setelah hari ke-7 Hyang Buddha berada di Kapilavastu, di saat Beliau sedang makan siang, Putri Yasodhara mengajak putranya Rahula melihat dari jendela ke arah Buddha Gautama. Putri Yasodhara menanyakan kepada Rahula, siapakah Dia yang sedang makan? Rahula menjawab bahwa Dia yang sedang makan adalah Hyang Buddha. Mendengar jawaban putranya, putri Yasodhara sangat sedih sampai meneteskan airmata dan berkata. “Beliau adalah Buddha, dan juga ayah kandungmu. Dia rela meninggalkan segala harta benda, kemewahan, kesenangan duniawi, kekuasaan, pangkat, ketenaran, meninggalkan istana, dan sekarang menjadi Buddha. Dia telah memperoleh harta abadi melebihi segala harta benda yang ditinggalkan.”

Pangeran Rahula yang pada saat itu berusia 7 tahun datang menghadap Buddha Gautama dengan sapa hormat dan sopan santun. Hyang Buddha Menasehatkan kepada Rahula bahwa segala harta benda yang telah ditinggalkan tidak lebih bernilai dan abadi daripada harta yang telah diperoleh-Nya sekarang yakni Dharma – Penerangan Sempurna. Rahula lalu ditahbiskan menjadi Samanera atau Calon bhiksu. Melihat kejadian ini putri Yasodhara mula-mula merasa sedih karena suaminya, Pangeran Sidharta, menolak menjadi raja. Sejak saat itu, bagi yang masih dibawah umur bila hendak ditahbiskan menjadi samanera haruslah mendapat persetujuan dan ijin dari orang tua calon samanera itu. Rahula kemudian menjadi bhiksu dan mencapai Arahat. Juga putri Yasodhara kemudian menjadi Bhiksuni dan mencapai Arahat.

Hyang Buddha juga memberikan Khotbah kepada rakyat Kapilavastu sehingga banyak rakyat menjadi Upasaka dan Upasika. Beliau menjelaskan kepada para siswa-Nya dalam kehidupan sehari-hari, selalu menjunjung tinggi Buddha Dharma dan mengajarkan kepada orang lain, semua itu merupakan penghormatan yang tertinggi kepada-Nya, Buddha Gautama.


1.17. Devadatta.

Devadatta, saudara sepupu-Nya, juga seorang anggota Sangha, tapi ia memiliki sifat dengki dan sombong. Melihat kebesaran dan keberhasilan-Nya, hati Devadatta sangat terluka dan timbul niat buruk untuk mencelakakan Buddha Gautama.

Devadatta juga membuat perpecahaan dalam Sangha, juga berani berbuat hal-hal yang tercela.

Pada suatu hari, dia mengetahui Hyang Buddha Gautama akan melewati jalan yang berada dibawah puncak Burung Bering. Devadatta lantas menjatuhkan sebuah batu gunung besar dari puncak itu dengan maksud agar batu gunung itu menimpa Yang Maha Bijaksana. Tapi batu gunung itu tidak mengenai dan melukai Dia, batu itu pecah menjadi dua dan jatuh ke arah lain sebelum menimpa Dia.

Devadatta mengulangi lagi rencana jahatnya dengan cara melepaskan seekor gajah liar pada jalan utama yang dilalui raja, dimana jalan ini akan dilalui oleh Maha Bijaksana. Gajah liar berlari-lari dengan kencang ke arah Dia, dengan suara mendengus kencang bagaikan guntur yang akan membelah bumi, bagaikan angin kencang di angkasa di malam gelap gulita.

Orang-orang yang mengetahui rencana jahat Devadatta, semua mengucurkan air mata dan banyak orang berusaha untuk menghalangi gajah itu tapi tidak berhasil. Yang Maha Bijaksana diberitahukan akan bahaya, tapi Yang Maha Bijaksana terus berjalan dengan tenang dan tanpa ada rasa takut. Karena Dia memang punya perasaan prihatin dan sayang terhadap semua makhluk hidup, para Dewa dan Dewi, para Bodhisattva dan Buddha juga turut melindungi-Nya.

Para bhiksu yang mengikuti Buddha Gautama telah lari tunggang-langgang karena ketakutan, hanya tinggal Ananda sendiri yang mendampingi Dia. Buddha Gautama tetap tenang dan terus berjalan. Gajah itu berlari-lari dengan kencang ke arah Hyang Buddha untuk menubruk-Nya. Tapi sebelum gajah itu datang mendekat, Yang Maha Bijaksana dengan kekuatan Spiritual-Nya dapat membujuk gajah besar liar itu jinak, dan tidak menyentuh sedikit juga tubuh Hyang Buddha. Gajah besar liar itu menundukkan kepalanya dan menjatuhkan badannya ke tanah di hadapan Hyang Buddha dengan menimbulkan suara yang gemuruh. Yang Maha Bijaksana dengan penuh kasih sayang, dengan kelembutan tangan-Nya mengusap-usap kepala gajah besar liar itu.

Devadatta setelah menyaksikan kejadian tersebut, menjadikan dia lebih dengki, kejam, dan jahat. Akhirnya atas perbuatannya sendiri telah mengakibatkan karma buruk, setelah meninggal dunia dia jatuh ke alam neraka.


1.18. Maha Prajjapati dan Pangeran Nanda

Maha Prajjapati adalah bibi Buddha Gautama, yang mengasuh-Nya di waktu masih kecil (Pangeran Sidharta), kemudian menjadi permaisuri kedua dari Raja Suddhodana. Dia mempunyai seorang putra bernama Nanda. Karena Pangeran Sidharta tidak ingin menjadi raja yang sekarang telah menjadi Buddha Gautama. Juga Rahula akhirnya menjadi bhiksu dan mencapai Arahat. Pangeran Nanda yang kelak akan menggantikan Raja Suddhodana, mempunyai istri yang cantik bernama Sundari. Pangeran Nanda hidupnya hanya bersenang-senang dengan istrinya, tidak memikirkan masa depan kerajaan Kapilavastu.

Ketika Buddha Gautama di Kapilavastu mengetahui segala tindakannya, Dia Menasehati Pangeran Nanda dan memberikan Khotbah kepadanya. Siapapun kelak akan menjadi Raja Kapilavastu walaupun bukan keturunan raja, asalkan dia cakap dan bijaksana serta memperhatikan rakyatnya, dapat memerintah secara adil dan bijak, dia boleh saja menjadi raja. Akhirnya Pangeran Nanda meninggalkan istana dan menjadi bhiksu. Sariputra yang mencukur rambut Nanda ketika ia akan menjadi bhiksu.

Akhirnya Maha Prajjapati juga menjadi bhiksuni. Ananda dalam hal ini juga sangat mendukung dibentuknya Sangha Bhiksuni.


1.19. Sariputra dan Maudgalyayana

Sebelum menjadi siswa Hyang Buddha, Sariputra bernama Upatisya. Dia dari keluarga Brahmana dan tinggal di kota Rajagrha. Teman baiknya bernama kolita, yang kemudian juga menjadi siswa Buddha Gautama dan bernama Maudgalyayana.

Sariputra terkenal karena pandai bicara dan sangat bijaksana. Ibunya seorang pendiam. Ketika mengandung Sariputra, ibunya menjadi sangat pandai bicara dan dalam hal-hal tertentu menjadi lebih bijaksana. Maudgalyayana dikenal karena pandai dan memiliki kekuatan gaib.

Sebelum mereka berdua menjadi murid Hyang Buddha, Sariputra dan Maudgalyayana berguru kepada sanjaya. Sanjaya adalah seorang guru dari golongan Tirtyas yang mempunyai dua ratus lima puluh orang murid.

Sariputra, Maudgalyayana beserta dua ratus lima puluh temannya itu akhirnya menjadi murid Buddha Gautama. Mereka menjadi murid Hyang Buddha karena mendengar Khotbah bhiksu Ashvajit, dia lalu membawa mereka bertemu dengan gurunya, Buddha Gautama.

Maudgalyayana pada suatu hari ketika sedang ber-meditasi, merasa ngantuk. Kebetulan Buddha Gautama ada disekitarnya. Melihat dia mengantuk, Buddha Gautama datang menghampirinya dan dengan penuh kasih sayang berbicara lembut kepada Maudgalyayana. Supaya dia tidak merasa ngatuk dan dapat ber-meditasi dengan baik, Beliau berkata kepada Maudgalyayana,

“Engkau harus selalu ingat bahwa seorang bhiksu bila diminta oleh umatnya untuk datang ke rumah mereka sudah tentu karena ingin memerlukan bantuanmu. Dirumah umat awam, engkau sebagai seorang bhiksu tidak boleh merasa harus di hormati dan harus dilayani secara berlebihan. Sebab mungkin disebabkan di rumah ada hal yang sangat penting untuk diselesaikan terlebih dahulu, sehingga engkau agak diabaikan.

Maudgalyayana, engkau jangan seketika berperasaan tidak dihormati juga atau mereka mendadak berubah sikap terhadapmu. Jika demikian halnya ada dalam perasaan dan pikiranmu dan ketenanganmu, dan bila terus teringat maka engkau tidak akan dapat menjalankan meditasi-mu dengan baik.

Demikian juga engkau tidak boleh mengucapkan perkataan yang dapat menimbulkan pertengkaran, juga tidak boleh berusaha mencari kesalahan orang lain. Jika engkau, Maudgalyayana, melakukan hal-hal yang demikian maka engkau akan terganggu ketenanganmu sehingga engkau tidak dapat memusatkan pikiranmu untuk dapat bermeditasi dengan baik.”


1.20. Tiga Saudara Kasyapa.

Di Uruvela, sebelah hulu sungai Nairanjana, berdiam seorang guru pemuja api bernama Uruvela Kasyapa yang mempunyai lima ratus orang sebagai pengikutnya. Dia merupakan kakak tertua di antara tiga orang saudaranya. Mereka berdua juga pemuja api. Adiknya yang pertama bernama Nadi Kasyapa mempunyai tiga ratus orang pengikut yang tinggal di hilir sungai Nairanjana. Adik Uruvela Kasyapa yang kedua bernama Gaya Kasyapa mempunyai dua ratus orang pengikut, dan bertempat tinggal lebih hilir dari kakaknya Nadi Kasyapa.

Suatu ketika Buddha Gautama datang ke Uruvela mengunjungi Kasyapa dengan maksud untuk memberikan petunjuk dan mengajarkan Buddha Dharma kepadanya agar ia dapat kembali ke jalan yang benar dalam mencari ilmu. Buddha Gautama minta kepada Uruvela Kasyapa untuk menginap di rumahnya. Permintaan-Nya dikabulkan, tapi Uruvela Kasyapa menjelaskan bahwa di pondoknya terdapat seekor ular kobra besar dan ganas menjaga api sucinya. “Asalkan Engkau tidak takut tinggal di pondok saya itu, saya tidak keberatan,” ujar Uruvela Kasyapa.

Buddha Gautama menginap di pondoknya, beliau tidak tidur melainkan ber-meditasi dikamar yang dimaksudkan Uruvela Kasyapa. Pada tengah malam, betul saja seekor ular kobra besar muncul dan mendekati-Nya dengan suara mendesis dan dari mulut ular itu menyemburkan hawa beracun dan bergerak hendak menggigit-Nya.

Buddha Gautama sedikit pun tidak bergeming, dalam meditasi-Nya dengan kekuatan spiritual dan mengembangkan rasa maitri karuna terhadap semua makhluk hidup, cahaya welas asih memancar dari tubuh-Nya hingga segala macam kejahatan dan benda atau hawa beracun tidak mampu menembus cahaya maitri karuna dan prajna-Nya.
Pada keesokan paginya, Uruvela Kasyapa datang kekamar Beliau, dikira Buddha Gautama sudah mati digigit ular kobranya. Namun dia melihat Hyang Buddha sedang ber-meditasi dengan tenang. Dia bertanya apakah Beliau tidak melihat ular kobra yang dimaksudkan itu. Hyang Buddha menjawab bahwa tidak ada ular kobra. Kemudian Hyang Buddha menjelaskan kepada Uruvela Kasyapa tentang Buddha Dharma.

Pada hari berikutnya, ada upacara sembahyang pemujaan api. Tapi Buddha Gautama tidak hadir menyaksikan upacara tersebut. Ketika Uruvela menanyakan kepada Beliau mengapa tidak turut hadir dalam upacara itu, Hyang Buddha menjawab, “Bukankah engkau tidak menginginkan Saya ikut hadir.”
Uruvela Kasyapa sangat terkejut mendengar jawaban Hyang Buddha yang telah mengetahui isi hatinya.

Beberapa hari berikutnya, turunlah hujan lebat. Ini kali Hyang Buddha menunjukkan tanda-tanda gaib spiritual-Nya. Hyang Buddha berjalan keluar. Anehnya hujan tidak membasahi-Nya dan jalanan yang akan dilewati-Nya menjadi kering seolah-olah tidak turun hujan. Melihat kemampuan Hyang Buddha, Uruvela menjadi kagum dan hormat kepada-Nya.

Setelah mendengar lagi Khotbah Hyang Buddha tentang Buddha Dharma, akhirnya Uruvela Kasyapa dan kedua adiknya serta para pengikut mereka menjadi siswa Hyang Buddha. Uruvela Kasyapa juga dikenal dengan nama Maha Kasyapa.


1.21. Ananda

Buddha Gautama ketika mengunjungi Kapilavastu, telah beberapa kali memberikan Khotbah Buddha Dharma baik kepada raja, pangeran, bangsawan kerajaan Kapilavastu. Beliau juga memberikan Khotbah Dharma kepada penduduk suku Shakya. Mereka yang telah mendengar Khotbah Dharma dari Hyang Buddha di hati dan batin mereka tumbuh ke-Bodhi-an untuk menjadi siswa Buddha dan banyak yang menjadi bhiksu. Diantara pangeran yang menjadi bhiksu adalah Pangeran Devadatta, Pangeran Anuruddha, Pangeran Vibhasa, Bhadrika, Pangeran Ananda.
Ananda dikenal sangat pandai yang mempunyai ingatan luar biasa. Dia juga yang paling setia dan senantiasa mendampingi Buddha Gautama selama 27 tahun. Ananda memcapai tingkat Arahat pada saat akan menjelang pagi dimana akan diadakan Pertemuan Agung I tidak lama setelah Mahaparinirvana Hyang Buddha. Ananda mengulangi semua Khotbah Hyang Buddha yang pernah didengar langsung olehnya dengan mengucapkan ‘Evam Maya Sutram’ artinya’Demikianlah telah aku dengar’ (aku di sini dimaksudkan adalah Ananda). Maka semua sutra pembukaannya dimulai dengan kalimat tersebut.

Ananda berjasa dalam memberikan dorongan berdirinya Sangha Bhiksuni, dimana Maha Prajjapati di tahbiskan menjadi bhiksuni. Pada hari dia ditahbis menjadi bhiksuni merupakan hari berdirinya Sangha bhiksuni. Atas permintaan Hyang Buddha kepada Ananda untuk merancang jubah Sangha, Ananda mengambil contoh petak-petak sawah di negeri Magadha yaitu kotak-kotak yang ada pada jubah Sangha.

Pada saat akhir sebelum Ananda meninggal, beliau pergi ke tepi sungai Rohini, memberikan Khotbah Dharma terakhir kepada sanak keluarganya dan para umat awam di sana. Setelah itu beliau pergi menuju sungai Rohini, dari tubuhnya keluar api suci membakar dirinya sendiri dan meninggal. Ananda meninggal dalam usia 120 tahun dan juga mencapai tingkat Arahat.


1.22. Upali

Upali adalah berasal dari Kasta Sudra. Sejak kecil ia telah bekerja dalam lingkungan kerajaan Kapilavastu, mengabdi kepada Pangeran Bhadrika. Setelah memutuskan untuk menjadi siswa Hyang Buddha, sebelum bertemu dengan Beliau, Pangeran Bhadrika meminta rambutnya dicukur bersih oleh Upali. Upali telah mengenal Hyang Buddha ketika Beliau memberikan Khotbah di istana Kapilavastu, yang pada saat itu didampingi oleh Sariputra.

Upali tidak berani menyatakan niatnya langsung kepada Hyang Buddha untuk menjadi siswa-Nya, karena ia merasa dari Kasta Sudra. Setelah bertemu dengan Sariputra, Upali menjelaskan maksudnya dan menanyakan apakah dia dari Kasta Sudra boleh menjadi murid Hyang Buddha. Dijelaskan Sariputra ‘boleh’ Hyang Buddha tidak pernah membedakan kasta dan memandang beda terhadap semua makhluk. Sewaktu Beliau masih menjadi Bodhisattva, Beliau sudah tidak membeda-bedakan derajat manusia. Dengan mengikuti Sariputra, Upali diperkenalkan langsung kepada Hyang Buddha.

Hyang Buddha menjelaskan kepada Upali bahwa dia mempunyai bakat sejak lahir memiliki kebajikan, dan kelak pasti dapat membantu Beliau menyebarkan Buddha Dharma. Kemudian Upali langsung ditahbiskan menjadi bhiksu.


1.23. Subhadra

Subhadra menjadi siswa Hyang Buddha dan ditahbiskan menjadi bhiksu pada saat beliau memberikan Khotbah Dharma yang terakhir.

source: http://owalah.wordpress.com/2007/01/...uddha-gautama/

Read More..

How to Get the Mind of a Zen Buddhist Monk

It has been 8 weeks since I started Bill Harris’ Holosync Awakening Prologue. And I must say that I have been pleasantly surprised by the results. I was not looking for gut-wrenching changes in my personality. After all I am, on the whole, quite even in temperament. Like most folks, I am happy, confident and secure most of the time.

What attracted me to Bill Harris’ program initially was the fact that his promises did not carry the usual sales pitch. He did not promise that all your dreams would materialize with the use of his product. Nor did he say that you would become infinitely wealthy or successful or that all your desires would be made manifest. What he did promise was that

a) you would become more happy, more tranquil;

b) you would improve your brain power—increase in learning ability, memory, intuition, creativity and concentration;

c) you would experience remarkable improvement in spiritual and emotional health;

d) you would ( if you follow through with the 12 levels of the program until the end) develop the brain state of a Zen Buddhist monk.

It was this last promise—that I can have the mind and brain state of a Zen Buddhist monk-- that really intrigued me. So I ordered the initial program—the Awakening Prologue online.

So far, 8 weeks into the program ( meditating 1 hour a day with Holosync), I have noticed

a)a remarkable ability on my part to focus on my work( writing),

b)increased creativity and productivity,

c)a deep, deep sense of happiness that wells up several times during the course of the day.

But what has been for me the most profound change is the ease with which I seem to enter a meta-consciousness, an “other” me looking at myself and all that happens to me in a detached, witnessing manner. It’s as though I am able to enter an altered state that prevents me from judging or reacting with blind emotions. I am watching my response( whether it be joy, anger, annoyance) as though it were someone else’s , another reality, not mine. And the benefit of this detachment is the ability not to be aroused unnecessarily by circumstance.

Well, you are probably wondering, what is Holosync and how does it work?

In its simplest form, Holosync is meditation through neurotechnology. It is based on the work of Dr. Gerald Oster whose research into the effects of sound waves on brain wave patterns led to his use of sound to create desired electrical patterns in the brain, including those of a Zen Buddhist monk who has been meditating for over 20 years. Studies have shown that these monks have unusually balanced and synchronized whole brains, developed through years of focusing by repeating a prayer or mantra. The repetitive practice of meditation has created new neural pathways in their brains allowing them to experience the ineffable sense of oneness and connectedness so typical of spiritual experiences.

Instead of merely duplicating these brain wave patterns, Harris chose to view the entire Holosync meditation process as evolutionary which means that the brain is pushed by progressively stronger stimulus to develop new structures and new thresholds. And it is this search for stronger stimulus that led Harris to the use of progressively lower frequency carriers to push the brain to higher levels of organization .

Using the analogy of a runner, Harris explains the uniqueness of his meditation process in this way:

“Once the brain finished creating the pathways needed to handle the first set of frequencies we originally gave it, evolution would stop. We would be like a runner who could never increase his run to two, three or more miles.

“In terms of the running analogy I’ve used, lowering the carrier frequency is like adding more miles to your run. On the other hand, the meditative brainwave pattern caused by the beat frequency the brain creates in reconciling the Holosync tones corresponds to how fast you run. Slowing the brain wave from beta to alpha to theta to delta is like running increasingly faster. By allowing us to run faster and farther, carrier frequency allowed us to really push the brain to change.”

The technology behind Holosync is part of a new revolution in neuroscience which sees brain wave entrainment as a means to enhanced brain power, health and longevity. Research now shows that the endorphins released when the brain is exposed to alpha and theta binaural beat patterns enhance many mental functions such as learning and memory. A recent study by Dr. Vincent Giampapa M.D. revealed that placing a listener in the various brain wave patterns using Holosync audio technology dramatically affects three hormones related to longevity and well-being. He found the following changes in levels of melatonin, DHEA and cortisol in 19 users of Holosync listening 4 hours a day over a 3 day period:

a)Over 68% had increases in DHEA ( the hormone that acts as a buffer against stress and aging) levels with an average increase of 43.77%.

b)Cortisol, the stress hormone , was down an average of 46.47%, with positive changes in 68% of the people.

c)Levels of melatonin, the hormone associated with restful sleep, increased an average of 97.77% with positive changes detected in over 73% of the participants.

The entire process of moving through the 12 levels of Holosync would take 7 years. This is really quite encouraging considering that a normal Buddhist monk would take 20 years or more of intense meditation to arrive at this level. For me, the die is cast. I am committed to the entire program; even the 7 year engagement is seductive because it tells me that this is not a simple exercise in magic, but a lifelong commitment to mind and spiritual development.

Copyright 2006 Mary Desaulniers

A runner for 27 years, retired schoolteacher and writer, Mary is now doing what she loves--running, writing, helping people reclaim their bodies. Nutrition, exercise, positive vision and purposeful engagement are the tools used to turn their bodies into creative selves. You can subscribe to Mary's newsletter by contacting her at http://www.GreatBodyafter50secrets.com or visit her at http://www.greatbodyat50.com

Read More..

Buddhist Meditation

Meditation is the very core of Buddhist practice. Buddhist meditation is a form of mental concentration based on the liberation of the mind, giving importance to the cultivation of virtue and wisdom (enlightenment). The ultimate aim of Buddhist meditation is to attain the supreme bliss of enlightenment (nirvana). The central part of Buddhist meditation is a realization of the ultimate goal of life.

The core of Buddhist meditation is the practice of the eightfold noble path. The eightfold virtues are right view, right thought, right speech, right action, right livelihood, right effort, right mindfulness and right concentration. The proceedings of Buddhist meditation are based on "samatha", which literally means 'tranquility', and "vipassana" (insight), meaning mindfulness.

Samatha

(tranquility) meditation involves breathing and development of loving kindness. Samatha teaches how to progress your life through the four jhanas (knowledges), the four stages of tranquility. The aim of this meditation is to develop detachment, concentration, happiness and equanimity. It trains the mind to concentrate on a single object in order to produce states of tranquility. There are 40 different types of samatha meditations.

Vipassana (insight) meditation develops self understanding through comprehending feelings, mind and dhamma (the teaching or mental objects). It trains the mind to observe the various things that come in through the six senses. By practicing insight meditation, you can develop wisdom which eradicates all ignorance and frees you from suffering. It is widely considered as one of the purest and finest techniques that increases your capacity for a balanced and happy living.

Today, Buddhist meditation is widely accepted as a device to attain a variety of goals such as physical relaxation and spiritual blissfulness. It can also function as an adjunct therapy for pain reduction and stress management.

Meditation provides detailed information on Meditation, Meditation Techniques, Transcendental Meditation, Guided Meditation and more. Meditation is affiliated with Tai Chi Videos.

Read More..

RIWAYAT SHAKYAMUNI BUDDHA

RIWAYAT SHAKYAMUNI BUDDHA
1.1. Kelahiran Bodhisattva

Di Jambudvipa (sekarang India), dinegara Shakya di India Utara bernama kerajaan Kapilavastu, terletak di utara sungai Rapti (sungai rohini), di daerah dekat pegunungan Hilamaya, diperintah oleh seorang Raja bernama Suddhodana dengan permaisurinya Ratu Maya Dewi (Dewi Mahamaya). Setelah duapuluh tahun perkawinan, mereka belum juga dikaruniai seorang Putra.

Pada suatu malam, Ratu Maya Dewi bermimpi aneh sekali. Dalam mimpi itu, Ratu Maya Dewi melihat seekor gajah putih turun dari langit memiliki enam gading dan sekuntum bunga teratai di mulutnya memasuki rahim Ratu Maya Dewi melalui tubuhnya sebelah kanan. Sejak mimpi itu Ratu Maya mengandung. Dia mengandung seorang bodhisattva dalam kandungannya selama sepuluh bulan.

Selama ia mengandung bodhisattva banyak kejadian ajaib terjadi. Misalnya, di mana saja ia pergi di Kapilavastu didampingi suaminya, Raja Suddhodana, Singa duduk dengan jinaknya di depan gerbang-gerbang, gajah-gajah menghormati raja, burung-burung diangkasa sangat bersuka cita mengiringi mereka. Ratu Maya dewi mendadak dapat mengobati orang sakit, banyak sekali orang sakit yang dapat diobati hingga sembuh. Dia sangat dermawan. Para dewa tidak menampakkan diri mendampingi permaisuri kemana dia pergi. Untuk tidak mengecewakan para dewa, Sang Bodhisattva membuat supaya Ratu Maya Dewi terlihat bersamaan di semua surga. Bila waktu malam, dia, memasuki ruang kamar tidurnya, tiga kamarnya mendapat pantulan cahaya dari tubuh permaisuri secara merata. Dan masih banyak lagi kejadian yang menakjubkan semua perbuatannya penuh welas asih.

Ketika waktunya telah tiba untuk melahirkan, Ratu Maya pergi ke Taman Lumbini dengan para dayangnya. Ratu juga meminta suaminya, Raja Suddhodana, ikut. Sudah tentu dipenuhi dengan segala senang hati. Juga para dewa yang tidak menampakkan diri ikut mendampinginya. Di saat bulan purnama sidhi (menurut aliran Utara atau Mahayana, beliau lahir tanggal 8 bulan 4, lunar tahun 566 S.M.; menurut aliran Selatan atau Hinayana, tanggal 6 May, tahun 623 S.M.), di Taman Lumbini ini (dekat perbatasan India-Nepal), Ratu Maya melahirkan seorang bodhisattva tanpa kesulitan dan para dayang yang mendampingi Ratu, menyaksikan dengan penuh kesenangan. Begitu pula Raja Suddhodana dan para dewa dan dewi yang mendampingi ratu.

Saat ia dilahirkan, bumi menjadi terang benderang, seberkas sinar sangat terang mengelilingi bodhisattva yang baru lahir itu. Sesaat ia dilahirkan, bodhisattva berjalan tujuh langkah dengan jari telunjuk tangan kanan menunjuk ke langit, dan jari telunjuk tangan kiri menunjuk ke bumi, yang artinya Akulah teragung, pemimpin alam semesta, guru para dewa dan manusia. Para dewa yang mendampingi menjatuhkan bunga dan air suci untuk memandikannya. Pada saat ia akan menapakkan kakinya ke bumi, timbullah seketika itu tujuh kuntum bunga padma yang besar dibawah setiap langkahnya. Setiap ia melangkah ia menghadap ke sepuluh penjuru. Juga bersamaan waktu lahirnya, tumbuhlah pohon Bodhi.
Seisi alam menyambutnya dengan suka cita karena telah lahir seorang bodhisattva yang pada nantinya dia akan menjadi pemimpin alam semesta, gurunya para dewa dan manusia, mencapai Samyak Sam Buddha untuk mengakhiri penderitaan manusia di alam samsara ini.


1.2. Kunjungan Pertapa Asita

Pertapa Asita yang agung yang disebut juga Kala Devala berdiam di sebuah pegunungan yang tidak begitu jauh dari istana. Pertapa Asita melihat sinar yang sekonyong-konyong memancar terang-benderang di kawasan istana. Cahaya terang ini dinilai oleh pertapa Asita sebagai suatu pertanda baik, maka beliau bergegas menuruni gunung dan pergi menuju istana Raja Suddhodana.

Kunjungan pertapa Asita adalah untuk menyaksikan tanda-tanda pada tubuh pangeran, memperhatikan dengan seksama dan menemukan bahwa pangeran memiliki kewajiban besar (karena memiliki tanda-tanda tubuh dari orang yang yang Agung yang disebut Maha Purisa).

Kelahiran adalah sebagai suatu keajaiban sebab anggota-anggota tubuhnya merupakan titisan para Dewa Aurva, Prithu, Mandhatari, dan Kakshivat, para pahlawan dari masa lampau yang menyelinap masuk melalui paha, tangan, kepala, dan ketiak. Dia lahir tanpa melukai dan menyakiti ibunya. Jadi dia keluar dari rahim itu secara sempurna sebagai seorang Buddha.

Pertapa Asita tertawa setelah melihat pangeran. Tertawa karena pada suatu hari nanti pangeran akan mencapai Kesempurnaan (Buddha), sempurna dalam kebijaksanaan maupun Kewajiban, menjadi guru para dewa dan manusia. Kemudian dia menangis. Menangis karena usianya yang telah lanjut dan tidak mempunyai kesempatan lagi melihat dan mendengarkan pada saat pangeran mencapai Kesempurnaan (Buddha) dan menjadi Juru Selamat dunia dengan mengajarkan Buddha Dharma. Kemudian dia berlutut dan menghormat kepada pangeran dan tanpa disadari diikuti oleh Raja Suddhodana.

Lima hari setelah pangeran lahir, Raja Suddhodana mengumpulkan para pertapa di ruang istana untuk memberikan nama kepada pangeran. Pangeran diberi nama Sidharta Gautama. Sidharta berarti semua cita-citanya tercapai, dan Gautama adalah nama keluarganya.


1.3. Masa Kecil, Masa Remaja, dan Pernikahan Pangeran

Ratu Maya Dewi tidak dapat menahan luapan perasaan kegembiraan tatkala dia melihat seorang putra mahkotanya, yang dipersamakan sebagai seorang ahli peramal yang paling bijaksana. Dan Ratu Maya begitu suci, hingga ia tidak dapat melanjutkan untuk hidup sebagai seorang permaisuri biasa, kemudian ia harus mengorbankan dirinya hidup menderita karena penolakan putranya untuk menjadi raja di kemudian hari. Ataukah dia rela pergi ke surga, tinggal di Surga Tusita pada hari ke tujuh setelah pangeran dilahirkan?

Pada suatu hari, raja dan pangeran kecil disertai para pengasuh dan pembesar istana berjalan pergi kesawah untuk merayakan perayaan membajak sawah. Pangeran diletakkan di bawah sebuah pohon besar yang rimbun. Kemudian para pengasuh pergi untuk melihat jalannya upacara. Sewaktu ditinggalkan seorang diri, pangeran kecil itu lalu duduk ber-meditasi dalam keretanya, saat itu umurnya baru kira-kira lima tahun. Ayahnya yang melihat kejadian tersebut menjadi sangat gembira dan memberi hormat kepada putranya sambil berkata, “Putraku yang tercinta, inilah hormatku yang kedua.”

Sebagai pangeran dari sebuah kerajaan, beliau sebetulnya hidup sangat bahagia, dia lebih pintar dari gurunya yang bernama Visvamitra ketika ia berumur tujuh tahun, dan telah menguasai berbagai ilmu pengetahuan. Dia adalah anak yang terpandai diantara teman-teman sekolahnya, dan sangat cepat menguasai setiap pelajaran yang diberikan oleh gurunya. Dikelas dia selalu duduk paling depan dan penuh perhatian, mengikuti setiap pelajaran yang diberikan gurunya.

Pada umur 12 tahun, Pangeran Sidharta telah menguasai berbagai ilmu pengetahuan, ilmu taktik perang, sejarah dan Pancavidya, yaitu : sabda (bahasa dan sastra); Silpakarmasthana (ilmu dan matematika); Cikitsa (ramuan obat-obatan); Hatri (logika); Adhyatma (filsafat agama).
Dia juga menguasai Catur Veda: Rgveda (lagu-lagu pujian keagamaan); Yajurveda (pujaan untuk upacara sembahyang); Atharvaveda (mantra).

Pangeran Sidharta disamping pandai, juga seorang anak yang sopan dan baik budi pekerti, dan sayang pada binatang terutama binatang yang lemah.

Dia sangat pandai menunggang kuda dan gemar berburu. Bila kuda yang ditungganginya telah letih, dia turun dari kudanya dan membiarkannya untuk beristirahat dan mengusap-usap dengan penuh kasih sayang. Dia pergi berburu bukan untuk membunuh binatang tapi mengajak binatang hutan untuk bermain dan berkejar-kejaran.

Suatu hari, Pangeran Sidharta melihat Devadatta dan teman-temannya berburu burung dengan panah. Devadatta memanah seekor burung yang sedang berdiri di ranting pohon. Burung itu terkena panah Devadatta dan jatuh ke bawah. Pangeran Sidharta cepat pergi menghampiri burung itu dan segera mengobatinya. Devadatta meminta kembali burung itu dari Sidharta karena ia merasa bahwa ia yang memanah burung itu dan harus menjadi miliknya. Tapi Pangeran Sidharta mengatakan bahwa burung yang terpanah itu adalah miliknya. Terjadilah pertengkaran diantara mereka untuk memiliki burung itu.

Akhirnya hal ini dibawa kepada seorang pejabat Dewan Penasehat Kerajaan untuk dimintai pendapatnya. Pejabat Dewan Kerajaan menjelaskan kepada mereka berdua bahwa burung yang terkena panah itu adalah milik orang yang telah mengobati dan menyelamatkan hidupnya. Kemudian Pangeran Sidharta melepaskan burung itu ke alam bebas.

Adalah suatu tradisi dalam lingkungan kerajaan di India dimasa lampau di mana usia muda sudah dijodohkan dan dinikahkan. Ketika pangeran mencapai usia 16 tahun, ayahnya menikahkan dia dengan sepupunya, Putri Yasodhara yang sangat cantik juga berusia 16 tahun. Ini sebenarnya merupakan janjinya di masa lampau kepada Sidharta untuk tetap mendampingi dan melayani dengan setia.

Putri Yasodhara adalah kakak perempuan dari Devadatta. Ibu mereka bernama Amita adalah adik perempuan dari Raja Suddhodana yang menikah dengan Raja Suprabuddha.

Raja Suddhodana juga mempunyai tiga adik laki-laki, masing-masing bernama Suklodana, Amrtodana, dan Drandana. Suklodana mempunyai seorang putra bernama Ananda. Amrtodana mempunyai dua putra bernama Mahananma dan Anuruddha. Dranana juga mempunyai dua putra, masing-masing bernama Vibhasa dan Bhadrika.
Setelah pernikahan Pangeran Sidharta dengan Putri Yasodhara, mereka hidup amat bahagia, karena mereka cocok satu sama lain. Pangeran hidupnya sangat senang tapi hanya menikmati kesenangan hidup duniawi dalam istananya. Namun demikian pangeran suka pergi menyendiri untuk merenung di tempat yang sunyi dan tenang. Beliau tidak menderita, hanya mempunyai perasaan belas kasihan yang mendalam terhadap semua makhluk.

Setelah beberapa kali berkunjung ke ibukota Kapilavastu, beliau melihat empat pemandangan yang membuat dia terus berpikir, yakni : melihat orang tua, orang sakit, orang mati, dan seorang pertapa mulia. Beliau sangat tergugah hatinya oleh kejadian-kejadian tersebut. Beliau kembali ke istana dan mendapat kabar bahagia bahwa seorang putra telah lahir. Namun beliau tidak bahagia, karena menganggap bahwa kelahiran putra anak pertamanya hanya sebagai belenggu. Maka kakeknya memberikan nama pada cucunya Rahula, artinya belenggu.


1.4. Kesadaran

Empat peristiwa penting yang beliau lihat diluar istana itu, yakni: tua, sakit, meninggal dan seorang pertapa mulia, menyadarkan beliau bahwa semua itu harus dialami oleh semua makhluk, yakni setiap orang akan menjadi tua, setiap orang dapat sakit, dan setiap orang tidak terelakkan pasti suatu hari akan meninggal. Semua kejadian ini sungguh suatu penderitaan.

Peristiwa yang ketiga beliau lihat adalah orang meninggal, sesosok mayat. Maka beliau berpikir bahwa baik buruk seorang lelaki maupun perempuan, yang pandai maupun yang cantik, yang gagah maupun yang lemah, semuanya pada suatu hari pasti akan meninggal dan tubuhnya akan menjadi mayat. Mayat adalah suatu sosok tubuh yang tidak bagus dipandang.

Sejak saat itu, beliau mengundurkan diri dari sentuhan para perempuan di istana, dan sebagai jawabannya atas bujuk rayuan Undayin, penasehat raja, dia menjelaskan sikap barunya dengan kata-kata sebagai berikut :

“bukanlah saya memandang rendah hakekat dari rasa, dan saya mengetahui baik bahwa mereka itu membuat apa yang dinamakan dunia. Tapi bila saya mempertimbangkan ketidakkekalan dari dunia ini, saya menemukan tiada kebahagiaan di dunia ini. Usia tua, sakit, dan kematian tidak luput dari kehidupan manusia. Jika kecantikan dari wanita adalah kekal abadi, pikiran saya tentu sudah menuruti kata hati dan dalam hawa nafsu. Kenyataannya sejak kecantikan perempuan tidak melekat lagi, maka tubuhnya menua karena usia melunturkan kecantikannya. Menyenangi perempuan merupakan khayalan. Semua kenyataan ini sungguh menakutkan. Bagaimana dapat seorang pintar tidak memperdulikan akan bencana itu? Kapan dia mengetahui penghancuran yang akan datang?”


1.5. Meninggalkan Istana (Duniawi)

Setelah mantap pada pendiriannya maka beliau pergi mencari obat agar orang tidak menjadi tua, tidak menjadi sakit, dan tidak meninggal, untuk dipersembahkan kepada setiap orang. Pada saat itu beliau berusia 29 tahun, dan dengan seijin Raja Suddhodana beliau meninggalkan keduniawian. Pada malam sebelum kepergiannya, beliau sekali lagi memandang kepada istrinya dan anaknya. Diam-diam tanpa memberitahukan kepada mereka, beliau meninggalkan istana dengan kudanya yang bernama Kanthaka dan ditemani oleh seorang pengawal, anak menteri, bernama Candaka.

Selama dalam perjalanan ke desa dia menikmati pemandangan yang indah, tapi melihat para petani bercucuran keringat kelelahan membajak sawah, tanah dipacul dan dibuang kesamping, dan kelihatan cacing dan binatang melata lainnya terputus badannya oleh ayunan pacul. Semua ini membuat dia berpikir, sungguh semua makhluk hidup menderita.

Karena kesucian yang tinggi dalam benaknya terbentuklah sikap akan kepribadian yang luhur, dia melangkah turun dari kudanya dan berjalan dengan hati–hati dan perlahan-lahan diatas tanah, melewatinya dengan gundah-gulana. Pikirannya penuh dengan hal-hal kesengsaraan dan penderitaan makhluk hidup.

Pikirannya perlu ketenangan. Dia memisahkan diri dari temannya yang berjalan dibelakangnya dan pergi mencari suatu tempat sunyi dekat sebuah pohon besar yang rimbun. Daun-daun yang menyejukkan dari pohon itu dalam keadaan tidak bergerak, dan tanah dibawah itu nyaman. Disana ia duduk bersila, memikirkan mengenai asal mula dan matinya dari semua makhluk hidup. Pikirannya terus menerawang mengenai hal-hal tersebut. Pikirannya penuh konsentrasi dan menjadi tenang. Ketika ia memenangkan kerisauan, dia tiba-tiba bebas dari semua keinginan akan hakekat rasa dan kenafsuan duniawi. Dia telah mencapai tingkat pertama mengenai ketenangan luar biasa, yaitu tenang di tengah-tengah pikiran yang beraneka ragam. Dalam tempatnya itu, dia telah berada pada tingkat kesucian pikiran yang luar biasa. Sekarang dia tidak gembira maupun duka, tidak mengenal tawa atau tangis.


1.6. Bertemu Pertapa Secara Tiba-tiba

Pengertian yang sifatnya murni dan bersih ini tumbuh lebih lanjut dalam jiwanya yang luhur. Dia melihat seorang pria muncul kehadapannya yang tidak kelihatan oleh orang lain, yang muncul dalam samaran sebagai seorang peminta-minta saleh.

Pangeran lalu bertanya, “Katakanlah kepada saya siapa anda?”

Jawabannya adalah : “Oh bagaikan sapi jantan di antara orang-orang, saya adalah pertapa, yang ditakuti oleh kelahiran dan kematian, telah mengambil suatu kehidupan berkelana untuk mencapai keselamatan. Karena seluruh akhirnya tidak kekal. Keselamatan dari dunia ini adalah apa yang saya inginkan dan saya mencari kebahagiaan yang paling sempurna, di mana pemusnahan tidak dikenal. Sanak keluarga dan orang asing sama saja bagi saya, perasaan rakus serta kebencian juga telah sirna.

Pertapa ini bernama Arada Kalama dan Pangeran Sidharta Gautama langsung berguru kepadanya. Sebagai gurunya yang pertama dalam hal untuk mencari pembebasan penderitaan bagi dunia. Chandaka yang mendampinginya di suruh pulang dengan kudanya, Kanthaka.

“Temanku, jangan bersedih, “ ujar pangeran, “ Bawalah kuda ini serta pesan saya kepada raja dan rakyat di Kapilavastu yang selalu memperhatikan saya. Hentikan rasa kasih sayang kepadaku dan dengarkanlah ketetapan hatiku yang tak tergoyahkan. Apa aku akan meleyapkan usia tua dan kematian, dan kemudian engkau akan segera melihat aku lagi. Atau aku akan kehilangan semua, sebab aku gagal dan tidak dapat mencapai tujuan.”

Pangeran Sidharta Gautama telah menjadi pertapa kelana. Beliau juga telah menjadi Bodhisattva. Beliau tidak puas mengikuti gurunya yang pertama ini, karena ia hanya dapat belajar sampai pada tingkatan tertentu saja dalam meditasi. Lalu beliau mencari lagi orang suci lain yang bernama Undraka Ramaputra.

Dengan guru yang kedua ini beliau juga tidak puas, karena hanya sampai pada tingkat meditasi yang lebih tinggi saja. Yang beliau ingin cari adalah Kebahagiaan sejati, yaitu akhir dari segala penderitaan.. Akhirnya alkisah beliau memutuskan untuk berdaya upaya sendiri.


1.7. Latihan Mengenai Kekerasan

Sejak waktu itu, pangeran yang sekarang telah menjadi seorang Bodhisattva, dengan rajin belajar pelbagai latihan di antara para pertapa dan para yogi. Dia berkelana mencari tempat pengasingan yang sunyi, untuk tinggal pada tepi sungai Nainranjana. Lima orang pertapa telah tinggal pada tepi sungai itu, sebelum ia menuju kesana.

Kesucian dari lubuk hati muncul dari keberanian dirinya sendiri. Mereka menempuh kehidupan dengan disiplin keras sekali, dalam ketaatan terhadap janji agama masing-masing mengenai lima perasaan.

Ketika para pertapa itu melihat dia disana , mereka menunggu dia untuk memberikan ajaran perihal pembebasan, menunggu seorang yang agung yang hakekat kebaikan dari kehidupan lampaunya telah memberikan berkah dan karunia.

Mereka menyapa dengan hormat, membungkukkan badan mereka di hadapan bodhisattva, mengikuti petunjuknya, dan menempatkan diri mereka sendiri sebagai murid dibawah pengawasannya. Bagaimanapun juga, dia mulai pada cara tapa yang keras, dan khususnya mengenai penderitaan akibat kelaparan sebagai jalan mengakhiri kelahiran dan kematian. Karena keinginannya yang sungguh-sungguh badannya menjadi kurus selama enam tahun, dengan melaksanakan puasa secara ketat, yang sangat sukar bagi orang biasa untuk bertahan. Pada jam makan, dia harus puasa bila hanya makan sebutir, yang maksudnya dia telah memenangkan pantai Samsara. Sehingga tubuhnya menjadi kurus kering, hanya tinggal tulang-belulang terbungkus kulit.

Pda suatu hari, dia sedang duduk dibawah pohon bodhi terdengar suara lagu yang syairnya kira-kira mempunyai arti sebagai berikut:

“bila senar gitar ini dikencangkan,
Suaranya akan semakin tinggi.
Kalau terlalu kencang,
Putuslah senar gitar itu, dan lenyaplah suara gitar itu.
Bila senar gitar ini dikendorkan,
Suaranya akan semakin rendah.
Kalau terlalu dikendorkan,
Maka lenyaplah suara gitar itu.
Karena itu wahai manusia,
Mengapa belum sadar-sadar pula,
Dalam segala hal janganlah keterlaluan.”

Akhirnya Pertapa Gautama menghentikan tapanya yang sangat ekstrim yang telah dijalani selama enam tahun di hutan Uruwela.


1.8. Pemberian Nandabala

Kemudian pertapa Gautama pergi ke sungai untuk mandi. Sesudahnya mandi, dia hampir tidak kuat bangun ke permukaan tepi sungai disebabkan badannya sangat lemah. Dengan bersusah payah akhirnya sampai juga didarat dan berjalan tidak terlalu jauh, dia duduk dibawah pohon Asetta. Seorang wanita yang kebetulan lewat, melihat tubuh pertapa Gautama begitu lemah. Wanita itu bernama Nandabala, memberikan dia semangkuk susu yang dimasak dengan nasi. Setelah makan, badannya terasa hangat dan segar.

Kelima pertapa yang telah bersama-sama dia selama enam tahun, menyaksikan kejadian ini lalu meninggalkan dia. Mereka sangat kecewa hatinya dan menganggap pertapa Gautama telah gagal, dan pergi meninggalkan dia seorang diri.

Pertapa Gautama berpikir bahwa cara yang selama ini dilakukan adalah salah. Lagipula, dia selama ini belum dan bahkan tidak dapat menemukan apa yang dicarinya. Dia berkesimpulan bahwa hanyalah dengan badannya yang sehat dan pikiran yang jernih, barulah dapat meneruskan niatnya untuk mencapai penerangan sempurna. Seterusnya, pertapa gautama makan kembali sekedarnya.

Dengan kebulatan tekad dan keyakinan diri sendiri, akhirnya pertapa Gautama memutuskan untuk bermeditasi. Dia mencari tempat yang sunyi, tenang, Di bawah pohon bodhi (diceritakan bahwa pohon bodhi ini tumbuh bersamaan waktu ia lahir). Selanjutnya dia duduk bermeditasi dengan sikap duduk Padmasana dan berjanji kepada dirinya sendiri. Dia tidak akan bergeming sedikit pun juga, dan berhenti bermeditasi ditempat ini sebelum tujuannya memperoleh penerangan (Nirvana) tercapai.


1.9. Mengalahkan Mara

Pertapa Gautama adalah keturunan dari para pertapa yang setia dan memiliki kebijaksanaan tinggi. Dia telah memutuskan untuk mengalahkan kemelekatan dan memenangkan pembebasan. Dalam meditasinya datanglah Mara untuk mengoda. Mara adalah musuh utama Bodhisattva, namun dia dapat menaklukkan godaan Mara.


1.10. Penerangan

Setelah mengalahkan Mara, dengan kebulatan tekad dan ketenangannya, Bodhisattva Gautama berhasil meneruskan meditasinya. Akhirnya Bodhisattva Gautama secara berturut-turut telah mengalami :

Ketika Bodhisattva Gautama mampu mengalahkan para pengikut Mara, beliau telah mengalami yang pertama kali dari empat tingkatan dhyana.

Pengamatan pertama malam itu:
Dengan kekuatan mata batinnya yang luar biasa (divyacaksus), Dia menghancurkan kegelapan (tamas) dan menghasilkan terang (alokam).

Dalam pengamatan menengah, Dia mengingat kehidupan masa lampaunya dan memperoleh pengetahuan seperti itu (vidya).

Dan pengamatan ketiga, ketika fajar menyingsing, Dia menyadari dan memperoleh pengetahuan mengenai penghancuran dari asravas.

Selanjutnya, dia merenungkan sampai tiga kali tentang 12 jenis pratitya samutpada. Pertama-tama, dia mulai dengan usia tua dan kematian, dan berpikir, “Apa yang terjadi mengenai jaramarana? Apakah penyebabnya?” Dia mengulangi pertayaan itu sampai pada avidya.

Yang kedua kali, dia mulai dengan avidya, dan berpikir demikian, Samakara timbul dari avidya sebagai penyebabnya, dan seterusnya, sampai pada hubungan mata rantai pratitya-samutpada yang terakhir.

Yang ketiga kali, dia mulai dengan jara-marana dan berpikir demikian, “Apa yang tidak bereksistensi, jara-marana tidak akan terjadi? Apa yang menyebabkan penghentian jara-marana? Dia meneruskan dengan cara ini dan berakhir pada avidya. Kemudian Dia menyadari bahwa Pengetahuan, Penglihatan ke dalam, Kebijaksanaan, dan Penerangan telah timbul dalam dirinya.

Dia telah mengetahui fakta dan hakekat dari penderitaan itu, mengenai asravas, dan perihal 12 faktor tentang sebab-musabab yang saling bergantungan. Dia mengetahui pula tentang asal mula dan sebab penghentian semua itu, dan juga jalan menuju ke Penghentian itu. Jadi Dia memperoleh Pengetahuan kelipatan tiga dan memperoleh Penerangan sempurna yang tertinggi. Dia mengetahui, mengerti, menyaksikan, dan merealisasikan semua yang di ketahui, dimengerti, disaksikan, dan direalisasikan.

Dia kemudian bangun dan melompat ke angkasa dengan ketinggian tujuh kali pohon bodhi. Dia berbuat demikian untuk meyakinkan para deva bahwa Dia telah memperoleh Penerangan. Dia mengucapkan sajak berikut ini :

“Jalan itu telah diputuskan; debu itu telah dihilangkan;
Asravas telah dikeringkan, mereka tidak akan mengalir lagi.
Bila jalan itu telah diputuskan, dia tidak kembali lagi,
Ini dinamakan akhir dari Penderitaan.”

Semua Buddha harus menunjukkan tanda-tanda kemampuan seperti itu. Para dewa menaburi aneka bunga kepada-Nya dan mengakui ke-Buddha-an-Nya. Penerangan dan kebahagiaan menyebar ke seluruh alam semesta, dan sampai menggoncangkan enam alam. Semua Buddha memuji Buddha yang baru itu dan menghadiahkan Dia payung permata yang mengeluarkan sinar penerangan. Semua Bodhisattva dan deva gembira dan memuji Buddha itu. (Penerangan ini diterjemahkan dari Penerangan yang di edit oleh P.Ghosa, Calcutta, 1902-13, Bibliotheca Indita, Catasahasrika Prajna Paramita, Bab I-XII)

Menurut versi Hinayana, beliau memperoleh Penerangan atau Pencerahan Agung dan menjadi Buddha (Samyak-Sam-Buddha) dibawah pohon Bodhi di Bodh-Gaya, pada saat bulan Purnama Sidhi pada hari Waisak, pada usia 35 tahun. Sedangkan menurut versi Mahayana, Beliau mencapai Penerangan atau menjadi Buddha Shakyamuni (Samyak-Sam-Buddha) pada tanggal 8 bulan 12 (lunar).

Setelah Beliau mencapai Penerangan Sempurna dan menjadi Buddha, dari tubuh suci Beliau memancarkan enam sinar yang disebut Buddharasmi atau Sinar Buddha.
Sejak saat itu dan selama hidup-Nya, Beliau dapat memancarkan enam sinar suci itu bilamana dikehendaki-Nya. Kadang-kadang Beliau mengirim sinar suci-Nya dengan warna-warna itu untuk mengubah tabiat para manusia.

Enam warna sinar-Nya adalah :

1. Nila = biru.
Berarti bakti atau pengabdian. Dia telah menjadi Buddha mempunyai sifat bakti dan pengabdian yang tiada taranya kepada manusia yang menderita.

2. Pita = kuning.
Berarti kebijaksanaan, mahatahu, seorang Buddha adalah berpengetahuan luas dan mahatahu (Sarvakarajnata).

3. Rohita = merah.
Berarti kasih sayang dan welas asih. Seorang Buddha mempunyai rasa maha kasih sayang dan maha welas asih yang tidak terbatas terhadap semua makhluk. Pada seorang Buddha sudah tidak ada lagi rasa benci, sentimen, kejam, iri hati, dan dengki, yang ada pada diri-Nya hanya maha welas asih kasihan tanpa perbedaan dan perasaan bahagia bila mengetahui atau melihat orang lain dapat hidup senang dan bahagia.

4. Avadata = putih
Berarti suci. Seorang Buddha telah suci batin-Nya dan pikiran-Nya tidak dapat dikotori lagi oleh segala macam kekotoran dunia. Maka dari itu seorang Buddha atau Bodhisattva dilukiskan sebagai mutiara yang berada di atas bunga teratai (mani-padma).
Bunga teratai meskipun tumbuh dirawa yang penuh lumpur, diatas bunga teratai itulah seorang Buddha atau Bodhisattva duduk atau berdiri laksana mutiara yang putih berkilauan, yang bebas dari segala kekotoran dan tidak dapat kena kotoran karena dialasi bunga teratai.

5. Manjistha = orange, jingga.
Berarti giat, Seorang Buddha mempunyai semangat yang luar biasa, giat menyebar Dharma kepada dewa dan manusia serta melakukan segala perbuatan baik yang berfaedah bagi orang banyak dan makhluk-makhluk lainnya.

6. Prabhasvara = bersinar-sinar, sangat terang, cemerlang merupakan warna campuran dari kelima warna tersebut diatas; berarti campuran dari kelima sifat tersebut diatas.

Selama tujuh hari Beliau meneruskan meditasinya di tempat yang sama. Tubuh-Nya tidak memberikan kesusahan pada-Nya, matanya tidak pernah tertutup, dan pikiran-Nya terus bekerja. Dia merenung, “Di tempat inilah saya menemukan Pembebasan.” Dia mengetahui kemauan-Nya akhirnya terpenuhi.

Ketika itu Indra dan Brahma sebagai dua kepala Deva yang tinggal di langit, telah mengerti kemauan Tathagata Sugata (Shakyamuni) untuk memprokamirkan jalan itu untuk kedamaian. Tubuh mereka yang bercahaya terang mendatangi Dia, dengan hormat dan ramah berkata kepada-Nya,

“Harap jangan menyalahkan semua makhluk sebagai tidak berguna, disebabkan keinginan harta benda seperti itu didunia ini! Jadi dengan tidak membeda-bedakan mereka adalah amal Wiyata. Sementara sebagian dari mereka masih memiliki hawa nafsu, sebagian lainnya hanya memiliki sedikit hawa nafsu. Sekarang Engkau, oh Yang Maha Bijaksana,telah ber-Penerangan dan menyeberangi lautan Samsara ini, tolonglah menyelamatkan juga makhluk lain yang telah tenggelam sebegitu jauh dalam penderitaan.”

Kedua deva itu bersabda demikian, karena mereka tahu bahwa dengan mata batin yang dimiliki seorang Buddha, Beliau telah melihat dalam dunia itu banyak makhluk berpandangan rendah dan hidup secara keliru, jiwanya tertutup tebal oleh kekotoran hawa nafsu. Dari sisi lain, dia menyadari banyak kepelikan dari Dharma-Nya tentang Pembebasan. Dia cenderung untuk tidak mengajarkan Dharma, namun ketika Dia cenderung untuk tidak mengajarkan Dharma, namun ketika Dia mempertimbangkan arti dan janji-Nya untuk memberikan Penerangan kepada semua makhluk, yang telah dia ucapkan pada masa lampau, dia mempertimbangkan kembali untuk memproklamirkan Jalan itu untuk Kedamaian.

Sesudah membuat permintaan ini kepada Yang Maha Bijaksana kedua deva itu memohon diri dan kembali ke surga tempat mereka. Yang Maha Bijaksana mempertimbangkan kembali dengan hati-hati atas kata-kata mereka. Akhirnya keputusan-Nya, Dia menyetujui untuk membebaskan dunia ini dari Penderitaan.Dia menyetujui untuk membebaskan dunia ini dari Penderitaan.

Yang Maha Bijaksana teringat akan Arada dan Undraka Ramaputra adalah dua orang yang terbaik dan cocok untuk memahami Dharma-Nya. Namun dengan mata batin-Nya, Dia melihat kedua pertapa itu telah meninggal dan berdiam diantara para deva dilangit. Pikiran-Nya kemudian ditujukan kepada lima orang pertapa yang dahulu pernah bersama-sama Beliau menjalani tapa yang sangat ekstrim.

Sebelum Beliau pergi sendiri ke kota Kashi, sekali lagi Beliau memandang ke pohon Bodhi itu sebagai tanda ucapan terima kasih karena di tempat inilah Beliau mencapai Penerangan.

source: http://owalah.wordpress.com/2007/01/...uddha-gautama/

Read More..

Sang Brahmin yang Menjaga Sila

Demikian yang telah saya dengar pada suatu
ketika: Buddha berdiam di kota Sravasti, biara
Jetavana di Taman Anathapindika. Pada suatu ketika
tepat pada saat malam tiba, dua orang dewa datang
kepada Buddha. Tubuh mereka bersinar menerangi seluruh
taman dengan cahaya emas. Ketika Buddha mengajar
tentang hukum kesunyataan kepada mereka, batin mereka
terbebaskan dan mendapatkan buah pencerahan. Lalu
mereka menundukkan kepala mereka di kaki Buddha dan
kembali ke alam dewa.

Pada petang hari Ananda berkata kepada Buddha:
"Bhagava, kemarin malam dua orang dewa datang dan
menghormat kepada Buddha dan cahaya mereka menerangi
taman itu dengan indahnya. Perbuatan bajik apakah yang
pernah kedua dewa itu perbuat sehingga hal ini dapat
terjadi?"
Buddha berkata kepada Ananda: "Pada kelahiran
sebelumnya ketika Buddha Kasyapa telah mencapai
Nirvana dan ketika ajaran Dhamma hampir punah, kedua
Brahmin mengambil sumpah delapan sila2. Seorang Brahma
ini mengambil sumpah ini dengan tujuan agar dapat
terlahir di alam dewa, yang lainnya dengan tujuan agar
terlahir sebagai raja. Pada suatu ketika, seorang
wanita mempersembahkan makan malam kepada salah
seorang dari seorang Brahmin, Brahmin itu berkata:
'Saya telah mengambil sila untuk tidak makan pada
malam hari.' Wanita itu menjawab: 'Engkau adalah
seorang pendeta Brahmin! Kita mempunyai sumpah-sumpah
agama kita tersendiri. Lalu mengapa Engkau mengambil
sumpah-sumpah dari guru yang lain? Jika kamu menolak
untuk bersantap bersama saya, saya akan melaporkan apa
yang telah engkau katakan kepada brahmin yang lainnya
dan mereka akan menolak untuk melakukan segala hal
bersamamu.' Mendengar ini, Brahmin itu menjadi takut
dan menyantap makanan itu.
"Ketika tiba saatnya brahmin-brahmin itu meninggal,
masing-masing dari Brahmin terlahir ke alamnya
masing-masing. Dia yang menjaga silanya dengan tujuan
lahir kembali menjadi raja, terlahir sebagai seorang
raja. Tapi dia yang telah mengambil sumpah untuk lahir
sebagai seorang dewa, terlahir sebagai seekor naga
karena melanggar silanya."
"Pada saat itu ada seorang tukang kebun yang menjaga
kebun buah-buahan sang raja dan mengantarkan buah dan
sayur-sayuran ke istana. Pada suatu ketika, dia
menemukan sebuah apel yang harum di musim semi dan
berpikir: 'Saya harus lari kesana kemari dengan buah
dengan sayur-sayuran dan selalu mempunyai masalah
dengan penjaga gerbang, saya akan memberikan apel ini
kepadanya. 'Penjaga gerbang itu mengambil apel dan
berpikir: 'Saya harus pergi kesana kemari sesuai
perintah dan selalu mempunyai masalah dengan penjaga
gerbang bagian dalam.' Penjaga gerbang bagian dalam
itu memberi apelnya kepada istrinya yang selanjutnya
memberikannya kepada raja. Ketika raja makan apel itu,
dia menemukan apel itu lebih nikmat dan harum daripada
apel-apel yang pernah dia makan, dan setelah
mengetahui darimana asalnya, raja memerintahkan tukang
kebun itu menghadapnya. Sang raja berkata: 'Karena
buah yang nikmat ini tumbuh di kebun saya sendiri,
saya ingin mengetahui mengapa apel itu diberikan
kepada orang lain dan bukan kepada saya.' Tukang kebun
itu menjelaskan apa yang terjadi, tapi sang raja
memerintahkan: 'Di lain waktu, bawakanlah hanya
apel-apel yang istimewa seperti ini.' Tukang kebun itu
menjadi takut dan berkata kepada raja: 'Tapi Yang
Mulia, tidak ada lagi apel-apel yang seperti ini di
kebun-mu. Saya menemukannya pada musim semi dan tidak
menemukannya lagi.' Sang raja berkata: 'Jika kamu
tidak dapat membawakannya lagi saya akan mencincang
tubuhmu!'
"Dengan sangat ketakutan lelaki itu pulang ke rumah,
duduk, dan mulai meratap dengan sedihnya. Seekor naga
mendengarnya dan menjelma menjadi seorang lelaki,
mendekati tukang kebun dan menanyakan apa sebab
kesediahan dan ratapannya. Ketika tukang kebun
menjelaskan apa yang telah terjadi, sang naga
menghilang dan kembali beberapa menit kemudian dengan
nampan emas berisi buah yang diberikan kepada tukang
kebun itu dan berkata: 'Bawa buah-buah ini kepada sang
raja. Berikan kepadanya dan sampaikan pesan saya:
'Yang Mulia, engkau dan saya memiliki hubungan. Pada
kehidupan sebelumnya, kita adalah brahmin yang
mengambil sumpah 8 sila Uposatha Mahayana, dengan
tujuannya masing-masing. Karena Engkau, Yang Mulia,
menjaga sumpahmu, engkau dilahirkan sebagai seorang
raja. Saya tidak dapat menjaga silaku, sehingga
terlahir sebagai seekor naga. Sekarang saya ingin
mempraktikan sumpah itu agar bisa meninggalkan tubuh
naga ini. Carilah ritual sumpah itu dan berikan
kepadaku. Jika kamu tidak melakukannya, saya akan
membuat tanahmu dibanjiri oleh lautan.'
"Tukang kebun itu segera mengambil buah itu dan
menghadap sang raja serta menyampaikan pesan sang
naga. Sang raja menjadi ketakutan dan berkata: 'Pada
saat ini tidak ada Buddha yang menetap di dunia ini
dan hukum kesunyataan sudah hampir punah. Dimanakah
bisa saya bisa mendapatkan ritual dari delapan sila
itu? Jika saya tidak mendapatkannya, lautan akan
sangat mungkin membanjiri tanahku. 'Dengan rasa amat
gelisah dia memanggil perdana menterinya dan berkata:
'Oh menteriku seekor naga telah memerintahkan saya
untuk mencari naskah yang bernama ritual delapan sila
harian. Coba carikan itu untukku. 'Sang menteri
menjawab: 'Karena ajaran Dharma sudah tidak ada lagi
di dunia, kemana seharusnya saya mencarinya?' Sang
raja berkata kepada menterinya jika dia tidak dapat
menemukan sila itu, dia akan dieksekusi.
"Dengan sangat ketakutan, sang menteri pulang ke
rumahnya dan duduk dalam keadaan putus asa. Menteri
ini memiliki seorang ayah yang sudah berumur yang
melihat anaknya sambil berpikir: 'Biasanya anak saya
selalu ceria tetapi hari ini mukanya sangat sedih dan
bermasalah. Saya ingin tahu apa yang menjadi
masalahnya?' Ketika dia bertanya, sang menteri
menceritakan tentang perintah sang raja. Orang tua itu
berkata: 'Anakku, di rumah kita terdapat sebuah pilar
yang selalu memancarkan cahaya. Pergi dan lihatlah apa
yang ada di dalamnya.' Ketika sang menteri membongkar
pilar itu dia menemukan sutra dari dua belas rantai
sebab akibat yang saling berhubungan dan naskah yang
berjudul ritual delapan sila harian didalamnya. Dengan
sangat bahagia, dia membawa kedua naskah itu kepada
raja, dan raja meletakkannya dalam sebuah peti emas
dan mengantarkan kepada sang naga. Ketika sang naga
menerima ini, dia sangat bahagia dan mempersembahkan
perhiasan yang berlimpah kepada sang raja. Sang naga
selanjutnya mengambil sumpah delapan sila dan
menyebabkan yang lainnya mempraktikkannya. Ketika dia
meninggal dia terlahir sebagai devaputra. Karena sang
raja mempraktikkan sila-sila ini sesuai Dharma, dia
juga dilahirkan di alam dewa bersama dengan sang naga.
"Ananda, dua devaputra yang mengunjungi saya pada
malam hari kemarin dan kepadanya saya menjelaskan
Dharma, dan mencapai buah pemenang arus3 dan telah
bebas dari tiga alam rendah. Mereka sekarang menikmati
kehidupan yang menyenangkan dan akhirnya saya akan
mengantarkan mereka ke Nirvana."
Setelah Buddha berkata demikian, yang berkumpul
percaya dan berbahagia.

Sumber:
Sutra of the Wise and the Foolish [mdo mdzangs blun]
atau Ocean of Narratives [uliger-un dalai]

penerbit:
Library of Tibetan Works & Archieves

Alih Bahasa Mongolia ke Inggris:
Stanley Frye

Alih Bahasa Inggris ke Indonesia:
Heni [Mhsi Universitas Indonesia]

Editor:
Junaidi
Kadam Choeling Bandung

Read More..

Pangeran Mahasattva Memberikan Tubuhnya untuk Macan

Demikian yang telah saya dengar pada suatu
ketika: Buddha berdiam di kota Sravasti, biara
Jetavana di Taman Anathapindika. Beliau meletakkan
jubah bagian atas dan bawahnya di pergelangan tangan,
beliau mengambil patta, dan pergi bersama Ananda untuk
menerima dana.

Ada seorang wanita tua di kota yang memiliki dua
orang anak yang merupakan pencuri. Seorang pemilik
kekayaan itu telah menahan mereka dan akan segera
membawa mereka kepada hakim untuk dihukum. Dalam
perjalanan ke tempat eksekusi, sang ibu meihat Buddha
dari kejauhan, bersujud di hadapanNya, dan berseru:
"Oh Bhagawan, dewa dari segala dewa, dalam welas
asihMu yang begitu besar, saya memohon kepadaMu,
selamatkanlah nyawa kedua anak lelakiku!" Mendengar
tangisan wanita itu dari kejauhan, Buddha merasa
tersentuh untuk menyelamatkan kedua anak laki-lakinya
itu, beliau berkata kepada Ananda: Ananda, pergilah
kepada raja dan mohonlahlah agar raja membebaskan
kedua orang itu." Ananda pergi menghadap raja,
menyebutkan permohonnya, dan raja pun membebaskan
kedua orang itu. Mereka sangat bahagia karena telah
diselamatkan oleh welas asih Buddha, mereka pergi
kepadaNya, bersujud di depan kakiNya dan beranjali,
dan berkata: Bhagawan, terima kasih untuk welas asihMu
yang sangat besar, nyawa kami telah diselamatkan.
Engkau yang terunggul dari semua dewa dan manusia,
dengan welas asih yang begitu besar, izinkanlah kami
untuk menjadi bhiksu." Buddha menyetujui permohonan
mereka dengan berkata "Selamat datang," rambut mereka
dipotong dan mengenakan jubah berwarna merah.
Mempertahankan kesetiaan, kekotoran batin mereka pun
dihilangkan melalui tanya jawab dengan Buddha, mereka
mencapai tingkat arahat. Setelah mendengar ajaran
Dhamma, Ibu kedua anak itu mencapai Sakadagamin1.
Ketika Ananda melihat keajaiban ini, ia memuji
kebajikan Buddha, sambil bertanya kepada dirinya
sendiri: "Perbuatan apa yang sebelumnya pernah
dilakukan oleh wanita tua dan anak-anaknya sehingga
dapat bertemu dengan Buddha, dibebaskan dari kesalahan
yang besar, dan memperoleh kebahagiaan Nirvana? Sebuah
mujizat yang sangat besar, mereka dalam satu kehidupan
ini dapat memperoleh berkah ini."
Buddha, mengetahui pikiran Ananda, berkata kepadanya:
"Ananda, ini bukanlah yang pertama kalinya saya
menyelamatkan wanita tua dan kedua anak laki-lakinya.
Di waktu yang lalu saya juga pernah melindungi dan
menyelamatkan mereka."
Ananda berkata: "Saya memohon kepada Sang Bhagawan
untuk menceritakan bagaimana di waktu lampau Engkau
menyelamatkan wanita itu beserta kedua anak
laki-lakinya."
Buddha berkata: "Ananda, beberapa kalpa yang lalu,
ada seorang raja di bumi ini yang bernama Mahayana
yang memiliki ribuan raja yang tunduk dibawahnya. Dia
memiliki tiga anak laki-laki: yang tertua, Mahanada,
yang tengah, Mahadeva, dan yang termuda, Mahasattva.
Sejak kecil anak yang termuda adalah seorang penyayang
dan penuh welas asih dan berpikir bahwa semua makhluk
hidup adalah anak-anaknya.
"Pada suatu ketika sang raja, menteri, istri, dan
anaknya pergi ke hutan dan gunung untuk
bersenang-senang. Pangeran-pangeran masuk kedalam
hutan untuk menjelajah. Mereka melihat seekor harimau
betina yang baru melahirkan anak harimau, lelah dan
lapar yang bermaksud untuk memakan anaknya. Pangeran
termuda berkata kepada saudara-saudaranya: 'Kakak,
harimau betina ini sedang kelaparan dan bermaksud
untuk memakan anaknya sendiri.' Ketika kakak-kakaknya
setuju akan hal ini, pangeran termuda berkata: 'Apa
yang dimakan oleh harimau?' Kakaknya menjawab: 'Dia
makan daging segar dan minum darah.' Pangeran muda
berkata: 'Siapa yang akan memberikan daging dan
darahnya sendiri demi menyelamatkan hidup harimau itu?
Kakaknya menjawab: 'Siapa yang bisa melakukan hal
sesulit itu!'
"Pangeran muda berpikir: 'Selama waktu yang lama saya
telah berputar dalam lingkaran kelahiran dan kematian
menghabiskan kehidupan dan badan ini, melalui
kemelekatan, kemarahan, dan ketidaktahuan tanpa
kebaikan. Demi Dhamma, saya harus memasuki ladang
kebajikan. Sekarang, untuk melakukan kebajikan, saya
harus memberikan tubuhku untuk harimau itu.'
"Pada saat mereka kembali, dia berkata kepada dua
kakaknya:'Kalian berdua pergilah duluan. Saya memiliki
hal pribadi yang ingin saya lakukan di dalam hutan.
Saya akan kembali beberapa saat lagi. 'Dia kembali ke
harimau itu, membaringkan dirinya di depan harimau
tersebut, tetapi harimau itu tidak dapat membuka mulut
untuk makan. Pangeran mengambil sebuah tongkat yang
runcing dan menusuk tubuhnya. Ketika darah mengalir,
harimau menjilatnya lalu harimau itu bisa membuka
mulutnya dan memakan tubuh pangeran.
"Segera setelah kedua kakak pangeran itu mulai
mempertanyakan apa yang dilakukan adiknya itu dan
kembali, mereka merasa takut jikalau adiknya telah
memberikan tubuhnya kepada harimau itu. Datang ke
tempat harimau itu berbaring dan melihat adanya
tulang, mereka mengetahui bahwa adiknya telah dimakan,
mereka pun jatuh pingsan. Segera setelah sadar, mereka
berteriak dan tidak sadarkan diri lagi.
"Pada saat itu ibu ratu bermimpi tentang tiga burung
dara yang terbang dan bersenang-senang. Ada seekor
burung elang yang menangkap dan membawa pergi burung
dara yang termuda. Bangun dengan ketakutan, dia
memberitahu raja: 'Yang mulia, Ada sebuah pepatah tua
yang berkata bahwa jiwa anak laki-laki dilambangkan
dengan burung dara. Baru saja saya bermimpi tentang
tiga burung dara yang sedang bermain dan seekor burung
elang menangkap dan membawa pergi yang termuda. Pasti
ada sesuatu yang terjadi pada anak terkecilnya.'
"Segera semua orang dikirim untuk mencari
anak-anaknya, lalu tiba-tiba dua anak laki-laki yang
lebih tua muncul tanpa adik mereka, dan ketika ditanya
apa yang terjadi pada Mahasattva, mereka melaporkan
bahwa dia telah dimakan oleh harimau. Mendengar berita
buruk ini, sang ratu pingsan. Ketika ratu sadar, dia
dan seluruh rombongan pergi ke tempat anaknya
meninggal. Melihat darah dan tulang di tanah tempat
harimau tersebut, sang ratu mengusap kepala, menangis
dan pingsan.
"Ketika Mahasattva meninggal dan terlahir kembali di
alam bahagia. Melihat dirinya sendiri, dia berpikir:
'Perbuatan baik apakah yang telah saya lakukan
sehingga dapat lahir di sini?' dan dengan mata dewanya
dia mencari di lima alam. Melihat tulangnya sendiri
ada di dalam sebuah hutan dan ayah, ibu, dan rombongan
berkumpul bersama sambil menangis dan berteriak keras,
dia berpikir: 'Saya telah menyebabkan orang tuaku
sangat menderita dan hal ini akan menyebabkan mereka
berumur pendek. Saya harus pergi dan menghibur mereka.
'Muncul di atas langit, dia menghibur mereka dengan
kata-kata penuh kasih sayang. Menatap ke atas, mereka
bertanya: 'Siapa engkau, dewa?' Dia memberitahukan
bahwa dia adalah anak laki-lakinya, Mahasattva dan
berkata: 'Ini adalah kebajikan memberikan tubuhku ke
harimau sehingga saya terlahir di alam bahagia. Ayah
dan ibu, dengarlah! Akhir dari segala sesuatu yang
tercipta adalah kehancuran, ini tidak diragukan lagi.
Di mana terdapat kelahiran, kematian itu pasti ada.
Ketika seseorang melakukan karma buruk, seseorang akan
jatuh ke neraka. Ketika seorang melakukan kebajikan,
orang tersebut akan memperoleh hidup yang lebih
tinggi. Dikarenakan semua makhluk harus mengalami
lahir dan mati, maka janganlah menderita karena saya.
Berbahagialah karena saya telah memperoleh kelahiran
yang baik dan berjuang untuk mengumpulkan kebajikan.
Tidak ada alasan untuk menderita.'
"Ayah dan ibu itu berkata: 'Anakku, itu adalah
sesuatu pikiran yang penuh welas asih yang mana engkau
memberikan tubuhmu untuk harimau itu. Karena engkau
penuh welas asih, janganlah tinggalkan kami. Ketika
kami berpikir tentang dirimu, seperti daging kami
sendiri terpotong. Yang maha welas asih, mengapa
engkau meninggalkan kami?'
"Sekali lagi dewa menghibur ayah dan ibunya dengan
kata-kata yang penuh kasih sayang. Setelah merasa
terhibur, mereka membuat peti mati dengan tujuh
perhiasan berharga dan menempatkan tulangnya ke dalam
peti. Menguburnya di dalam tanah dan membangun sebuah
stupa diatasnya. Ketika dewa kembali ke alamnya, raja
dan rombongan kembali ke istana."
Buddha berkata kepada Ananda: "Ananda,
bagaimana menurutmu? Pada saat itu dan ayahku
Suddhodana, adalah raja Mahayana. Ibuku, Mahamaya,
adalah ratu. Maitreya adalah kakak Mahanada. Vasumitra
adalah kakak Mahadeva. Saya sendiri adalah anak
termuda Mahasattva. Dua orang laki-laki tersebut
adalah anak harimau. Di masa lampau saya telah
menyelematkan mereka dari rintangan dan hidup mereka,
serta memberikan mereka kebahagiaan. Sekarang setelah
mencapai Kebuddhaan, saya melepaskan mereka dari
rintangan dan membebaskan mereka dari penderitaan di
bumi."
Ketika Buddha selesai berbicara, Ananda dan
pendengar lainnya memuji apa yang telah diajarkan oleh
Bhagava, bergembira, dan semakin kokoh keyakinannya.

Sumber:
Sutra of the Wise and the Foolish [mdo mdzangs blun]
atau Ocean of Narratives [uliger-un dalai]

penerbit:
Library of Tibetan Works & Archieves

Alih Bahasa Mongolia ke Inggris:
Stanley Frye

Alih Bahasa Inggris ke Indonesia:
Heni [Mhsi Universitas Indonesia]

Read More..

GODS OR DEWA:

Ada seorang anak muda dari Amerika. Dia selalu suka
jadi sukarelawan di panti-panti jompo atau di vihara.
Sampai pada suatu hari dia berkata kepada temannya
bahwa dia ingin menjadi seorang bhikkhu (pendeta
Buddha). Bagaimana caranya? Temannya berkata pergilah
kamu berdana kepada bhikkhu dan tanya lah dia
bagaimana cara menjadi bhikkhu.

Pergi lah si anak ini ke vihara. Dia bertemu dengan
seorang bhikkhu. Bhikkhu ini bertanya ada yang bisa
saya bantu? Kebetulan Bhikkhu juga seorang
berkebangsaan Amerika. Pada tahun 70-an masih sedikit
bhikkhu orang kulit putih. Kata pemuda itu, saya ke
sini mau berdana dan mau jadi bhikkhu, bagaimana
caranya? Bhikku itu tersentak dan dia tahu pemuda ini
ikhlas.

Bhikkhu itu berkata, pergilah kamu ke Thailand. Di
sana ada Monastery International yang menerima kita
para orang asing untuk berlatih. Jadi berangkatlah
pemuda ini ke Thailand, sampai di Bangkok Airport jam
2 pagi tapi dia tidak tahu pasti alamat Monastery itu.
Jadi dia pergi dengan naik taksi. Setelah perjalanan
cukup jauh, sampailah ia di depan Monastery itu, waktu
itu masih dini sekitar jam 3 lebih. Taksi itu pergi
saja begitu mengantarnya. Ternyata Monastery itu belum
terbuka, semuanya masih gelap gulita. Ketika dia
mengamati pintunya, tiba-tiba tercium harum wangi.

Kemudian berbalik badan melihat seorang bapak tua
dengan pakaian adat Thai berdiri di belakangnya. Bapak
itu bertanya dengan bahasa Inggris yang fasih, ada
yang bisa saya bantu? Pemuda ini sangat gembira
sekali, karena untuk pertama kalinya di sini dia
berjumpa dengan orang yang bisa berbahasa Inggris.

Pemuda ini menjawab, saya ke sini mau berdana dan
menjadi bhikkhu. Bapak itu tersenyum dan menjawab,
hari masih dini, belum ada yang bangun, mari saya
antar kamu masuk ke dalam.

Dan bapak ini meraba kantongnya mengeluarkan kunci
yang sudah usang dan membuka pintu samping monastery
itu. Kemudian dia membawa pemuda ini ke sebuah ruang
besar, menghidupkan lampu-lampu di ruang itu. Di sana
ada patung-patung Buddha dan beberapa lukisan yang
kelihatan sudah tua. Bapak itu menceritakan tentang
sejarah lukisan-lukisan yang berada di ruang itu
kepada pemuda tersebut dengan bahasa Inggris yang
fasih sekali. Tak terasa subuh sudah sampai, bapak itu
berkata pada pemuda itu:

"Mari saya antar kamu ke ruang tempat para bhikkhu
menerima dana makan. Setelah sampai di sana, bapak itu
berkata, tunggulah di sini kepala biara akan segera
keluar, dan bapak itu berjalan keluar.

Begitu kepala biara itu keluar, dia terperanjat
melihat pemuda ini. Karena dia tidak bisa berbahasa
Inggris, dia segera mencari murid kulit putih lainnya.

Pemuda ini menjelaskan bagaimana dia bisa masuk ke
vihara dan menunggu di sana.

Kepala biara terperanjat, karena di dalam vihara
mereka tidak pernah ada bapak yang dikatakan pemuda
itu, lagipula hanya kepala biara dan wakilnya yang ada
kunci pintu itu. Dia juga terperanjat karena pemuda
itu tahu sejarah lukisan-lukisan itu, sementara
orang-orang yang bermukim lama di sana saja sudah
tidak tahu menahu tentang sejarah itu. Setelah pemuda
itu menjelaskan ciri-ciri khas orang itu, ternyata
baju adat itu seperti baju Raja Thailand yang dulu.

Segera mereka membawa pemuda itu untuk melihat sebuah
lukisan seseorang. Pemuda itu berkata: "Yes! This is
the man who helped me this morning." Segera mereka
mengerti bahwa bapak itu ternyata Raja Thailand dulu
yang sudah meninggal dunia dan menjadi Dewa. Karena
keikhlasan dan kesucian hati dari pemuda ini, dewa pun
menolongnya.

Cerita kedua tentang Dewa adalah dari pengalaman
senior saya di Thailand. Pada masa saya dulu,
bhikkhu-bhikkhu banyak yang berniat ke India, tempat
asal usul agama Buddha. Mereka berjalan dari Thailand
ke India, perlu waktu satu tahun. Banyak yang tidak
berhasil, atau meninggal karena perjalanan yang
berbahaya dalam hutan liar, ataupun tersesat. Senior
saya, seorang bhikkhu yang sangat saleh bercerita
tentang pengalamannya. Dia sudah berhasil sampai ke
India.

Tetapi dalam perjalanan pulangnya sekitar 4 hari
sebelum mencapai Thailand dia sudah kehabisan tenaga,
karena sudah hampir seminggu dia belum menemukan
makanan untuk mengisi perutnya. Akhirnya dia terjatuh
di jalan, dari kejauhan dia nampak seorang berpakaian
rapih dan bersih seperti orang kota membawa rantangan
makanan berjalan ke arahnya.

Orang itu menderma makanannya kepada senior saya itu.
Senior saya heran bagaimana orang ini bisa tahu kalau
ada bhikkhu yang menunggu dana makanan. Karena bhikkhu
tidak boleh bertanya asal usul makanan dari seorang
pemberi, senior saya hanya menerima dan memakan
makanan itu. Tetapi begitu dia membuka rantang
makanan, dia terperanjat dengan isi makanan itu karena
semuanya berisi sayuran yang bagus-bagus adat Thai
seperti yang dijual di restoran. Senior saya tidak
tahan untuk tidak bertanya.

Sehingga dia berkata kepada orang itu: "Maafkanlah
saya untuk bertanya, dari manakah kamu berasal
sehingga kamu tahu kalau di sini ada seorang bhikkhu
yang sedang menunggu dana makan?" Orang itu hanya
tersenyum dan menunjuk ke atas langit.

Cerita lain tentang dewa adalah pengalaman saya
sendiri. Sewaktu saya berada di Thailand, sudah biasa
seorang bhikkhu berjalan kaki dari suatu tempat ke
tempat lain.

Suatu waktu, karena saya berjalan melewati banyak
hutan yang tidak ada penduduknya, saya tidak menerima
makanan maupun minuman. Sebagai seorang bhikkhu, sudah
menjadi peraturan untuk hanya makan atau minum dari
pemberian orang, tidak boleh meminta. Pada saat itu
matahari terik sekali dan sudah 2 hari saya berjalan
tidak makan atau pun minum. Kemudian tibalah saya di
sebuah desa. Sewaktu saya berjalan di pintu desa, dari
kejauhan saya sudah melihat ada warung dimana beberapa
orang duduk sambil mengobrol.

Saya melihat ada iklan Coca-Cola. Sewaktu saya
melewati warung itu, sebagai seorang bhikkhu saya
tidak boleh melihat ke sana ke mari, apalagi meminta
minum kepada mereka, jadi pandangan mata saya tetap
menunduk ke bawah. Mereka sepertinya tidak
menghiraukan saya. Kemudian saya berpikir dan berkata
dalam hati, kalau benar ada DEWA yang menolong bhikkhu
yang baik seperti yang tertulis dalam Sutta Pitaka,
tunjukkanlah kepadaku sekarang juga keberadaan dewa
itu. Kemudian saya berusaha konsentrasi dengan jalan
saya sampai kira-kira setelah 9 meter saya berjalan,
saya mendengar ada orang berlari-lari ke arah saya dan
berteriak dengan bahasa Thai yang artinya persembahan
dana makan untuk bhikkhu. Ternyata seorang wanita
membawa Coca-Cola untuk saya, kemudian diikuti
teman-temannya yang lain.

Kemudian saya duduk di bangku di tepi jalan. Kemudian
saya minum Coca-Cola yang berada di sampingku, 9
botol! Dan berpikir, Wah! DEWA benar ada, dan bukan
hanya satu, mereka benar-benar mau menunjukkan bahwa
DEWA itu ada!

Read More..

LIMA RINTANGAN BATIN - Ven Sujiva

LIMA RINTANGAN BATIN

Oleh : Ven Sujiva


Tadi malam saya telah membahas instruksi-instruksi dasar yang berkenaan dengan sifat dari kesadaran (sati) dan obyek utamanya. Hari ini saya akan melanjutkan dengan teknik-teknik lainnya yang berkaitan dengan hal tersebut. Anda akan melihat bahwa pada hari pertama dan kedua adalah waktu untuk pembersihan kuti. Seluruh ketegangan dan kelelahan yang bertumpuk akan muncul berkecamuk, begitu pula dengan kecenderungan – kecenderungan dan pikiran-pikiran kebiasaan. Jika anda belum pernah mengikuti latihan meditasi sebelumnnya dan tidak memiliki gambaran tentang meditasi, maka anda akan berkecil hati karena ini akan menjadi hari-hari yang sangat sulit bagi anda,

Begitu mereka duduk untuk mencoba berkonsentrasi atau untuk menjadi sadar, pikiran mereka akan menjadi tak terkendali, pergi mengembara, atau bahkan manjdai kosong. Hal ini menunjukkan keadaan dari pikiran kita dan itngkat pengendalian yang dapat kita latih terhadap pikiran itu. Hal ini terjadi akibat kekuatan dari kekotoran-kekotoran batin (kilesa), kekuatan dari keadaan-keadaan negatif pikiran atau kondisi pikiran yang tidak sehat, dan kurangnya kemurnian dan kesehatan pikiran. Kekotoran-kekotoran ini memiliki kekuatan yang besar sehingga dapat menahan kita di dalam samsara, siklus kematian dan kelahiran, sejak waktu yang tak terhingga lamanya ini.

Olah karena itu kita tidak seharusnya menganggap remeh terhadap kekuatan kilesa itu ! Dalam pembagian secara umum kita menyebut mereka sebagai tiga akar kejahatan, yaitu keserakahan, kemarahan, dan kebodohan. Akan tetapi, jika menyangkut meditasi dan cara kerjanya, mereka kita sebut sebagai lima rintangan, yaitu :
• Nafsu sensual
• Niat Buruk
• Kemalasan dan kelambanan
• Kegelisahan dan kecemasan
• Keragu-raguan

Mereka bekerja dengan cara yang berbeda dalam menganggu atau menghalangi kemajuan konsentrasi dan penguatan dari pikiran murni. Singkatnya sabagai berikut :
• Nafsu sensual adalah kegemaran pada nafsu keinginan dari ke-lima indera atau kesenangan dari nafsu keinginan inderawi.
• Niat buruk adalah kemarahan dan kebencian.
• Kemalasan dan kelambanan adalah sifat malas, ketidak-aktifan dan kekauan pikiran.
• Kegelisahan dan kecemasan adalah keresahan dan kebingungan dalam pikiran
• Keragu-raguan adalah keragua-raguan yang berkaitan dengan latihan dan Sang Tiratana.

Untuk lebih sederhanya, rintangan dapat digoloingkan dalam dua bagian pokok yaitu kemalasan dan kelambanan, serta kegelisahan dan kecemasan.

Dalam beberapa hari pertama, ketika para meditator datang untuk berlatih, rintangan inilah yang paling kuat mereka rasakan. Dari kedua rintangan pokok di atas, kemalasan dan kelambanan adalah rintangan yang tidak begitu berbahaya, dimana mereka hanya akan menyebabkan anda trertidur. Jika anda tertidur maka hal itu bukanlah sesuatu yang buruk, tetapi hanya meebuang-buang waktu, namun sebaliknya, kegelisahan pikiran adalah sesuatu yang aktif dan apabila ia bertambah kuat maka anda akan menjadi gila. Pikiran “hancur” karena kelebihan energi negatif .

Namun ketika anda datang untuk bermeditasi, anda harus menyingkirkan keduanya. Selama mereka masih ada, kesadaran tidak akan mampu bekerja sebagaiman mestinya. Gambaran/proses yang tampak akan tidak begitu jelas. Seseorang harus menyingkirkan mereka secara tuntas sebelum seluruh gambaran menjadi jelas dan usaha/latihan pandangan terang dapat dilanjutkan.

Bagaimana seseorang mengatasi kemalasan dan kelambanan ini ? Mari kita lihat beberapa cara mengatasinya. Dalam satu atau dua hari pertama, kemalasan dan kelamabanan biasanya merupakan kondisi batin yang sangat berat untuk diatasi. Seringkali tidak ada yung bisa anda lakukan kecuali duduk dan menghadapinya. Hal ini sangatlah sulit. Pada saa anda duduk, pikiran anda kosong. Jika anda telah sibuk bekerja dan anda sangat lelah atau anda telah melakukan perjalanan jauh maka tintangan ini akan sangat menyulitkan.

Akan tetapi, hal ini bukanlah sesuatu yang kekal. Jika anda duduk cukup lama dan mencoba cukup lama, biasanya ia akan berlalu. Seburuk-buruknya, jika anda tidak dapat bertahan duduk lagi, anda dapat bangkit dan berjalan. Namun setelah beberapa hari berusaha, rintangan ini akan berkurang dan jenis serangan kemalasan dan kelambanan akan lebih ringan. Kemalasan dan kelambanan yang muncul akan terbentuk lebih halus. Seperti pada pagi hari ketika anda sedang mengamati naik, turun, naik, turun (perut), obyek sangat jelas terlihat dan sangat menenangkan. Tapi pada suatu ketika semuanya tiba-tiba menjadi kosong. Mengapa? Karena kemalasan dan kelambanan telah merayap perlahan-lahan tanpa anda ketahui. Anda berkata, “ Saya sanga sadar dan awas tapi tiba-tiba saha keman perginya kesadaranku itu?” Hal ini lebih disebabkan olah jenis kemalasan dan kelambanan yang halus, ia bisa datang dengan cepat dan menyerang dengan tiba-tiba.

Maka ketika pikiran anda sangat tenang, anda harus secara khusus membangktkan energi atau jika anda merasa pikiran anda sedikit lamban, kabur, dan tidak jelas, maka inilah saatnya membangkitkan energi. Faktir untuk mengatasi kemalasan dan kelambanan adalah energi atau usaha. Pertanyaannya bukan apakah kita memiliki energi atau tidak. Jika menyangkut energi baitn, maka ia akan selalu ada dan tersedia. Contohnya, jika anda tertidur dan terlambat masuk kerja tapi anda tidak mengetahuinya, biasanya anda tidak akan bersedia bangun. Namun pada saat anda menyadari bahwa anda telah terlambat masuk kerja atau terlambat ujian, tiba-tiba saja dalam lima menit anda telah siap berangkat.

Darimana datangnya energi itu? Energi itu selalu ada, persoalannya adalah bagiaman memanggilnya dan persoalan dari tekad (kekuatan kemauan) untuk menggerakan dan membangkitkan kesadaran. Inilah yang perlu kita pelajari, yaitu untuk menghubungkan tekad yang sesuai untuk dapat membangkitkan energi tersebut kappa pun kita kehendaki. Tentu saja ada cara lain untuk memunculkan energi ini. Energi timbul dari apa yang kita sebut sebagai vitakka yaitu meningkatkan kekuatan pencatatan (secara batin).

Oleh karena itu, ketika anda tidak dapat menemukan gerakan naik dan turun (perut anda) karena anda sangat mengantuk, maka akan lebih bijaksana kiranya anda menggunakan metode ‘duduk-menyentuh’. Tentu saja karena rasa mengantuk, obyek duduk dan menyentuh anda rasakan juga tidak jelas. Oleh karena itu ana berpegang pada (obyek) yang lebih besar yaitu mencatat keseluruhan tubuh sebagai sedang duduk dan titik sentuhan yang dirasakan sebagai sedang menyentuh. Lalu anda meneruskan pencatatan secara teratur yaitu duduk – menyentuh, duduk- menyentuh, duduk- menyentuh.

Alternatif lainnya adalah menggunakan lebih banyak titik sentuh seperti duduk-menyentuh- menyentuh- menyentuh. Contoh titik sentuh adalah sentuhan pada bokong, kaki dan tangan. Anda juga dapat memilih titik sentuh secara terpola atau secara berurutan. Biasanya pada kasus kemalasan dan kelambanan yang sangat kuat, hal ini tidak akan efektif sama sekali kecuali anda cukup gigih.

Dengan tekad kuat, rintangan ini dapat dilalui, mungkin akan membutuhkan waktu beberapa saat. Mungkin tidak cukup hanya 5 atau 10 menit, tetapi bias 20 menit atau 30 menit unutk menembusanya. Namun sekali berhasil menembusnya, pikiran biasanya menjadi sangat jernih. Jika cara ini gagal juga, tentu saja anda sebaiknya melakukan meditasi jalan. Dalam meditasi jalan biasanya anda tidak akan mengantuk kecuali jika anda berjalan sangat perlahan. Itu dikarenakan obyek yang ada terlalu halus. Jika anda berjalan perlahan dan anda tidak dapat mengikutinya (secara batin), maka kemalasan akan berlanjut. Oleh karena itu maksud saya adalah berjalan dengan langkah yang agak besar, berjalan agak cepat, dengan sikap yang agak bebas. Jika anda tegang, kekakuan pikiran dapat mempengaruhi anda menjadi lesu. Lebih baik berjalan dengan lebih bebas, tidak terlalu lambat maupun sangat cepat, dan ambil langkah yang agak besar. Selang beberapa waktu ketika pikiran telah memiliki obyek untuk berpegang maka secara bertahap pikiran akan menjadi aktif kembali. Ketika pikiran telah diaktifkan, rasa mengantuk akan pergi dan energi akan kembali.

Tentu saja ini merupakan metode yang sederhana, Pada akhirnya kesemuanya terletak pada tekad, dan biasanya setelah beberapa hari, misalkan tiga atau empat hari, kemalasan dan kelambanan akan menghilang. Dalam kasus tertentu ia dapat berlangsung selama seminggu. Meskipun demikian jika anda tekun, rintangan ini akan menghilang setelah beberapa hari saja.

Rintangan lainnya yang muncul adalah keadaan berpikir dan kegelisahan. Di sini anda disarankan untuk mencatat ‘berpikir, berpikir’ dengan penuh kesadaran dan ia pun seharusnya menghilang. Sering, ketika kita mencatat ‘berpikir, berpikir’, ia tidak pergi juga.Kita mungkin saja mengatakan ‘berpikir, berpikir’ namun pada saat itu kita tidak sadar sepenuhnya. Jika anda sadar ketika anda mencatatnya, anda tidak akan berpikir lagi. Pikiran anda harus jernih dan sadar maka proses berpikir pun akan lenyap.

Kadangkala pada saat kita mencatat, proses berpikir menghilang lalu muncul kembali, ia menghilang lalu muncul kembali? Satu alasan yang mungkin adalah bahwa proses berpikir telah menghilang tapi masih ada kekotoran tertentu yang masih tertinggal. Ketika anda kembali mengamati naik turunnya perut, anda masih belum sadar sepenuhnya. Dalam pikiran anda masih ada sedikit keinginan, kemarahan, dan khayalan. Oleh karena itu, dalam kasus tertentu dimana proses berpikir itu sangat ‘bandel’ dan terus datang kembali, anda harus mencatat akar (sumber) dari pikiran itu (lobba, dosa, dan moha). Akar ini dicatat ketika anda mencatat proses berpikir itulah penyebab munculnya proses bnerpikir. Ketika anda mencatat (mengamati) proses berpikir dan bagaimana hal itu muncul, anda akan dapat menelusuri sumbernya. Yaitu apakah ia berasal dari keserakahan, kemarahan, kecemasan atau kekotoran-kekotoran negatif lainnya.

Anda juga akan dapat menemukan hal apa yang menyulitkan anda. Berkenaan dengan obyek, ia dapat berupa sesuatu yang spesifik atau yang umum. Obyek umum adalah dalam pengertian bahwa tidak ada obyek spesifik/khusus yang sedang anda pikirkan, hal ini dapat berupa semua yang ada didunia. Obyek spesifik artinya ada suatu hal yang mengganggu pikiran anda, oleh karena itu anda harus mengatasi masalah tersebut. Segera sesudah menemukan penyebabnya maka akan lebih mudah untuk memecahkan masalah itu. Jika itu hanyalah bentuk keserakahan atau kemarahan maka catatlah sebagai serakah, marah, kebodohan, dan seterusnya. Mencatat obyek yang lebih spesifik biasanya lebih efektif daripada obyek umum. Ini termasuk di dalam cittanupassana, yang berarti perhatian terhadap kesadaran, yang akan kita bahas lebih lanjut. Hal ini lebih berkaitan dalam merasakan keadaaan pikiran yang serakah, marah, berkhayal, malas, atau yang lain, dengan kesadaran yang jernih, sebagai suatu ‘bentuk’ dari pikiran dan juga sifat sadar dan keadaan pikiran. Jika hal tersebut dirasakan deng jelas maka biasanya ia akan lenyap dalam sekejap.

Akan tetapi, ada kasus dimana kekotoran ini sangat ‘bandel’. Jika kekotoran sangat kuta, anda harus mengatasinya dengan lebih bersungguh-sungguh. Contohnya orang-orang yang sedang dilanda masalah tertentu. Oleh karena itu di awal meditasi duduk disarankan untuk melakukan satu atau lebih apa yang kita sebut sebagai kosentrasi pendahuluan.

Keempat konsentrasi pendahuluan itu adalah yang pertama : Buddhanusati, yaitu mengingat kembali sifat-sifat luhur Sang Buddha. Meditasi ini dapat membantu kita mengatasi ketakutan, keragu-raguan dan kurangnya keyakinan.

Yang kedua : itu meditasi cinta-kasih (metta-bhavana). Meditasi ini membantu mengatasi kemarahan, niat jahat dan membangun ketenangan dan suasana yang harmonis di sekitar lingkungan tempat meditasi.

Yang ketiga : adalah meditasi pada kekotoran batin (asubha), ini bagi mereka yang memiliki kecenderungan nafsu atau gairah yang kuat.

Yang keempat adalah meditasi/perenungan pada kematian untuk mengatasi kegelesihan, kemalasan dan kepuasan akan diri sendiri. Termasuk di dalamnya yaitu meditasi pada kamma untuk mengatasi kegelisahan, rasa takut, kehilangan orang yang dicintai, kesedihan, dan sebagainya.

Seseorang tidak seharusnya menganggap remeh kekuatan meditasi pendahuluan ini meskipun mereka dianjurkan untuk melakukannya hanya selama lima sampai sepuluh menit pertama dari meditasi duduk. Jika ini dilakukan dengan baik maka ia akan mempertahankan pikiran anda, membuatnya tenang dan melakukannya dalam waktu yang cukup lama, maka semua pikiran, kegelisahan, dan rintangan dapat disingkirkan. kegelisahan timbul hanya pada tahap awal, ayitu satu atau dua hari pertama atau apda latihan yang pertama kalinya. Jika seseorang tidak mengetahui cara menghadapinya maka rintangan ini akan tampak sangat berat dan akan membuat mereka putus asa. Sebetulnya hal ini bukanlah persoalan yang besar.

Bagaimanapun, kita akan selalu harus menghadapi kelima rintangan ini selama kita belum menjadi seorang arahat. Ketika mereka muncul, ini adalah kesempatan kita unutk belajar menghadapinya. Jika anda seorang pemula dan belum belejar menghadapi mereka (kelima rintangan ini) sebelum anda pulang, maka anda akan selalu berhadapan dengan masalah ini. Belajar cara mengatasi mereka tidaklah bisa dengan seketika. Hal ini dipelajari perlahan-lahan. Anda tidak akan dapat mengalami keadaaan pikiran yang murni sebelum semua rintangan dan kekotoran ini telah dapat disingkirkan.

Sebagai contoh misalnya, mengantuk. Keadaan mengantuk mungkin hadir didalam pikiran dan anda mencatat ‘mengantuk, mengantuk, mengantuk’. Ia pun pergi tapi tidak seluruhnya. Semua kecenderungan ada di sana. Anda belum mencapai apa yang kita sebut sebagai konsentrasi menembus (upacara Samadhi) maka masih ada yang tersisa. Muncul dan lenyap, demikianlah ia datang kembalo. Hal ini seperti langit dimana matahari tetap disana, tapi lapisan tipis awan menghalangi sehingga anda tidak bisa melihat birunya langit. Hanya jika anda mencatatnya sampai tuntas dan ketika sekuruh rasa mengantuk hilang, anda baru mengetahui seperti apa langit biru itu sesungguhnya. Setelah itu matahari muncul, bersinar dengan cerahnya dan anda dapat melihat segala sesuatu di sekitar anda. .

Kelima rintangan adalah kemalasan dan kelambanan, keadaan pikiran yang berpikir, dan seterusnya. Untuk menyadari mereka adalah seperti membersihkan pikiran dari sampah. Ketika anda menyapu lantai, mulanya anda membuang dulu potongan yang besar, namun potongan yang kecil masih tersisa. Pekerjaan anda belum selesai dan ketika anda membuang potongan sampah yang lebih kecil, butiran debu masih ada yang tertinggal. Bahkan setelah sapuan yang pertama, di sana masih ada butiran debu yang tersisa.Maka usaha harus terus dipertahankan sampai seluruh rintangan dan kekotoran itu dapat disingkirkan. Hanya dengan demikianlah kesadaran (sati) menjadi jernih, terang, dan bercahaya. Seseorang harus menetapkan hati untuk mencapai tujuan mengatasi rintangan ini. Ini adalah tugas pertama dari seorang pemeditasi ketika mereka berlatih meditasi kesadaran (meditasi vipassana). Setelah dapat mengatasi hal ini, maka obyek utama akan menjadi lebih jelas.


Tamat

Sumber : Majalah Vipassana Tribune, Vol 7, November 1999, Malaysia.

Alih Bahasa : Budiman (Mutiara Dhamma XVII)

Read More..