Ada seorang anak muda dari Amerika. Dia selalu suka
jadi sukarelawan di panti-panti jompo atau di vihara.
Sampai pada suatu hari dia berkata kepada temannya
bahwa dia ingin menjadi seorang bhikkhu (pendeta
Buddha). Bagaimana caranya? Temannya berkata pergilah
kamu berdana kepada bhikkhu dan tanya lah dia
bagaimana cara menjadi bhikkhu.
Pergi lah si anak ini ke vihara. Dia bertemu dengan
seorang bhikkhu. Bhikkhu ini bertanya ada yang bisa
saya bantu? Kebetulan Bhikkhu juga seorang
berkebangsaan Amerika. Pada tahun 70-an masih sedikit
bhikkhu orang kulit putih. Kata pemuda itu, saya ke
sini mau berdana dan mau jadi bhikkhu, bagaimana
caranya? Bhikku itu tersentak dan dia tahu pemuda ini
ikhlas.
Bhikkhu itu berkata, pergilah kamu ke Thailand. Di
sana ada Monastery International yang menerima kita
para orang asing untuk berlatih. Jadi berangkatlah
pemuda ini ke Thailand, sampai di Bangkok Airport jam
2 pagi tapi dia tidak tahu pasti alamat Monastery itu.
Jadi dia pergi dengan naik taksi. Setelah perjalanan
cukup jauh, sampailah ia di depan Monastery itu, waktu
itu masih dini sekitar jam 3 lebih. Taksi itu pergi
saja begitu mengantarnya. Ternyata Monastery itu belum
terbuka, semuanya masih gelap gulita. Ketika dia
mengamati pintunya, tiba-tiba tercium harum wangi.
Kemudian berbalik badan melihat seorang bapak tua
dengan pakaian adat Thai berdiri di belakangnya. Bapak
itu bertanya dengan bahasa Inggris yang fasih, ada
yang bisa saya bantu? Pemuda ini sangat gembira
sekali, karena untuk pertama kalinya di sini dia
berjumpa dengan orang yang bisa berbahasa Inggris.
Pemuda ini menjawab, saya ke sini mau berdana dan
menjadi bhikkhu. Bapak itu tersenyum dan menjawab,
hari masih dini, belum ada yang bangun, mari saya
antar kamu masuk ke dalam.
Dan bapak ini meraba kantongnya mengeluarkan kunci
yang sudah usang dan membuka pintu samping monastery
itu. Kemudian dia membawa pemuda ini ke sebuah ruang
besar, menghidupkan lampu-lampu di ruang itu. Di sana
ada patung-patung Buddha dan beberapa lukisan yang
kelihatan sudah tua. Bapak itu menceritakan tentang
sejarah lukisan-lukisan yang berada di ruang itu
kepada pemuda tersebut dengan bahasa Inggris yang
fasih sekali. Tak terasa subuh sudah sampai, bapak itu
berkata pada pemuda itu:
"Mari saya antar kamu ke ruang tempat para bhikkhu
menerima dana makan. Setelah sampai di sana, bapak itu
berkata, tunggulah di sini kepala biara akan segera
keluar, dan bapak itu berjalan keluar.
Begitu kepala biara itu keluar, dia terperanjat
melihat pemuda ini. Karena dia tidak bisa berbahasa
Inggris, dia segera mencari murid kulit putih lainnya.
Pemuda ini menjelaskan bagaimana dia bisa masuk ke
vihara dan menunggu di sana.
Kepala biara terperanjat, karena di dalam vihara
mereka tidak pernah ada bapak yang dikatakan pemuda
itu, lagipula hanya kepala biara dan wakilnya yang ada
kunci pintu itu. Dia juga terperanjat karena pemuda
itu tahu sejarah lukisan-lukisan itu, sementara
orang-orang yang bermukim lama di sana saja sudah
tidak tahu menahu tentang sejarah itu. Setelah pemuda
itu menjelaskan ciri-ciri khas orang itu, ternyata
baju adat itu seperti baju Raja Thailand yang dulu.
Segera mereka membawa pemuda itu untuk melihat sebuah
lukisan seseorang. Pemuda itu berkata: "Yes! This is
the man who helped me this morning." Segera mereka
mengerti bahwa bapak itu ternyata Raja Thailand dulu
yang sudah meninggal dunia dan menjadi Dewa. Karena
keikhlasan dan kesucian hati dari pemuda ini, dewa pun
menolongnya.
Cerita kedua tentang Dewa adalah dari pengalaman
senior saya di Thailand. Pada masa saya dulu,
bhikkhu-bhikkhu banyak yang berniat ke India, tempat
asal usul agama Buddha. Mereka berjalan dari Thailand
ke India, perlu waktu satu tahun. Banyak yang tidak
berhasil, atau meninggal karena perjalanan yang
berbahaya dalam hutan liar, ataupun tersesat. Senior
saya, seorang bhikkhu yang sangat saleh bercerita
tentang pengalamannya. Dia sudah berhasil sampai ke
India.
Tetapi dalam perjalanan pulangnya sekitar 4 hari
sebelum mencapai Thailand dia sudah kehabisan tenaga,
karena sudah hampir seminggu dia belum menemukan
makanan untuk mengisi perutnya. Akhirnya dia terjatuh
di jalan, dari kejauhan dia nampak seorang berpakaian
rapih dan bersih seperti orang kota membawa rantangan
makanan berjalan ke arahnya.
Orang itu menderma makanannya kepada senior saya itu.
Senior saya heran bagaimana orang ini bisa tahu kalau
ada bhikkhu yang menunggu dana makanan. Karena bhikkhu
tidak boleh bertanya asal usul makanan dari seorang
pemberi, senior saya hanya menerima dan memakan
makanan itu. Tetapi begitu dia membuka rantang
makanan, dia terperanjat dengan isi makanan itu karena
semuanya berisi sayuran yang bagus-bagus adat Thai
seperti yang dijual di restoran. Senior saya tidak
tahan untuk tidak bertanya.
Sehingga dia berkata kepada orang itu: "Maafkanlah
saya untuk bertanya, dari manakah kamu berasal
sehingga kamu tahu kalau di sini ada seorang bhikkhu
yang sedang menunggu dana makan?" Orang itu hanya
tersenyum dan menunjuk ke atas langit.
Cerita lain tentang dewa adalah pengalaman saya
sendiri. Sewaktu saya berada di Thailand, sudah biasa
seorang bhikkhu berjalan kaki dari suatu tempat ke
tempat lain.
Suatu waktu, karena saya berjalan melewati banyak
hutan yang tidak ada penduduknya, saya tidak menerima
makanan maupun minuman. Sebagai seorang bhikkhu, sudah
menjadi peraturan untuk hanya makan atau minum dari
pemberian orang, tidak boleh meminta. Pada saat itu
matahari terik sekali dan sudah 2 hari saya berjalan
tidak makan atau pun minum. Kemudian tibalah saya di
sebuah desa. Sewaktu saya berjalan di pintu desa, dari
kejauhan saya sudah melihat ada warung dimana beberapa
orang duduk sambil mengobrol.
Saya melihat ada iklan Coca-Cola. Sewaktu saya
melewati warung itu, sebagai seorang bhikkhu saya
tidak boleh melihat ke sana ke mari, apalagi meminta
minum kepada mereka, jadi pandangan mata saya tetap
menunduk ke bawah. Mereka sepertinya tidak
menghiraukan saya. Kemudian saya berpikir dan berkata
dalam hati, kalau benar ada DEWA yang menolong bhikkhu
yang baik seperti yang tertulis dalam Sutta Pitaka,
tunjukkanlah kepadaku sekarang juga keberadaan dewa
itu. Kemudian saya berusaha konsentrasi dengan jalan
saya sampai kira-kira setelah 9 meter saya berjalan,
saya mendengar ada orang berlari-lari ke arah saya dan
berteriak dengan bahasa Thai yang artinya persembahan
dana makan untuk bhikkhu. Ternyata seorang wanita
membawa Coca-Cola untuk saya, kemudian diikuti
teman-temannya yang lain.
Kemudian saya duduk di bangku di tepi jalan. Kemudian
saya minum Coca-Cola yang berada di sampingku, 9
botol! Dan berpikir, Wah! DEWA benar ada, dan bukan
hanya satu, mereka benar-benar mau menunjukkan bahwa
DEWA itu ada!
Kamis, 21 Juni 2007
GODS OR DEWA:
Diposting oleh
hohoho
di
01.06
0
komentar
LIMA RINTANGAN BATIN - Ven Sujiva
Tadi malam saya telah membahas instruksi-instruksi dasar yang berkenaan dengan sifat dari kesadaran (sati) dan obyek utamanya. Hari ini saya akan melanjutkan dengan teknik-teknik lainnya yang berkaitan dengan hal tersebut. Anda akan melihat bahwa pada hari pertama dan kedua adalah waktu untuk pembersihan kuti. Seluruh ketegangan dan kelelahan yang bertumpuk akan muncul berkecamuk, begitu pula dengan kecenderungan – kecenderungan dan pikiran-pikiran kebiasaan. Jika anda belum pernah mengikuti latihan meditasi sebelumnnya dan tidak memiliki gambaran tentang meditasi, maka anda akan berkecil hati karena ini akan menjadi hari-hari yang sangat sulit bagi anda,
Begitu mereka duduk untuk mencoba berkonsentrasi atau untuk menjadi sadar, pikiran mereka akan menjadi tak terkendali, pergi mengembara, atau bahkan manjdai kosong. Hal ini menunjukkan keadaan dari pikiran kita dan itngkat pengendalian yang dapat kita latih terhadap pikiran itu. Hal ini terjadi akibat kekuatan dari kekotoran-kekotoran batin (kilesa), kekuatan dari keadaan-keadaan negatif pikiran atau kondisi pikiran yang tidak sehat, dan kurangnya kemurnian dan kesehatan pikiran. Kekotoran-kekotoran ini memiliki kekuatan yang besar sehingga dapat menahan kita di dalam samsara, siklus kematian dan kelahiran, sejak waktu yang tak terhingga lamanya ini.
Olah karena itu kita tidak seharusnya menganggap remeh terhadap kekuatan kilesa itu ! Dalam pembagian secara umum kita menyebut mereka sebagai tiga akar kejahatan, yaitu keserakahan, kemarahan, dan kebodohan. Akan tetapi, jika menyangkut meditasi dan cara kerjanya, mereka kita sebut sebagai lima rintangan, yaitu :
• Nafsu sensual
• Niat Buruk
• Kemalasan dan kelambanan
• Kegelisahan dan kecemasan
• Keragu-raguan
Mereka bekerja dengan cara yang berbeda dalam menganggu atau menghalangi kemajuan konsentrasi dan penguatan dari pikiran murni. Singkatnya sabagai berikut :
• Nafsu sensual adalah kegemaran pada nafsu keinginan dari ke-lima indera atau kesenangan dari nafsu keinginan inderawi.
• Niat buruk adalah kemarahan dan kebencian.
• Kemalasan dan kelambanan adalah sifat malas, ketidak-aktifan dan kekauan pikiran.
• Kegelisahan dan kecemasan adalah keresahan dan kebingungan dalam pikiran
• Keragu-raguan adalah keragua-raguan yang berkaitan dengan latihan dan Sang Tiratana.
Untuk lebih sederhanya, rintangan dapat digoloingkan dalam dua bagian pokok yaitu kemalasan dan kelambanan, serta kegelisahan dan kecemasan.
Dalam beberapa hari pertama, ketika para meditator datang untuk berlatih, rintangan inilah yang paling kuat mereka rasakan. Dari kedua rintangan pokok di atas, kemalasan dan kelambanan adalah rintangan yang tidak begitu berbahaya, dimana mereka hanya akan menyebabkan anda trertidur. Jika anda tertidur maka hal itu bukanlah sesuatu yang buruk, tetapi hanya meebuang-buang waktu, namun sebaliknya, kegelisahan pikiran adalah sesuatu yang aktif dan apabila ia bertambah kuat maka anda akan menjadi gila. Pikiran “hancur” karena kelebihan energi negatif .
Namun ketika anda datang untuk bermeditasi, anda harus menyingkirkan keduanya. Selama mereka masih ada, kesadaran tidak akan mampu bekerja sebagaiman mestinya. Gambaran/proses yang tampak akan tidak begitu jelas. Seseorang harus menyingkirkan mereka secara tuntas sebelum seluruh gambaran menjadi jelas dan usaha/latihan pandangan terang dapat dilanjutkan.
Bagaimana seseorang mengatasi kemalasan dan kelambanan ini ? Mari kita lihat beberapa cara mengatasinya. Dalam satu atau dua hari pertama, kemalasan dan kelamabanan biasanya merupakan kondisi batin yang sangat berat untuk diatasi. Seringkali tidak ada yung bisa anda lakukan kecuali duduk dan menghadapinya. Hal ini sangatlah sulit. Pada saa anda duduk, pikiran anda kosong. Jika anda telah sibuk bekerja dan anda sangat lelah atau anda telah melakukan perjalanan jauh maka tintangan ini akan sangat menyulitkan.
Akan tetapi, hal ini bukanlah sesuatu yang kekal. Jika anda duduk cukup lama dan mencoba cukup lama, biasanya ia akan berlalu. Seburuk-buruknya, jika anda tidak dapat bertahan duduk lagi, anda dapat bangkit dan berjalan. Namun setelah beberapa hari berusaha, rintangan ini akan berkurang dan jenis serangan kemalasan dan kelambanan akan lebih ringan. Kemalasan dan kelambanan yang muncul akan terbentuk lebih halus. Seperti pada pagi hari ketika anda sedang mengamati naik, turun, naik, turun (perut), obyek sangat jelas terlihat dan sangat menenangkan. Tapi pada suatu ketika semuanya tiba-tiba menjadi kosong. Mengapa? Karena kemalasan dan kelambanan telah merayap perlahan-lahan tanpa anda ketahui. Anda berkata, “ Saya sanga sadar dan awas tapi tiba-tiba saha keman perginya kesadaranku itu?” Hal ini lebih disebabkan olah jenis kemalasan dan kelambanan yang halus, ia bisa datang dengan cepat dan menyerang dengan tiba-tiba.
Maka ketika pikiran anda sangat tenang, anda harus secara khusus membangktkan energi atau jika anda merasa pikiran anda sedikit lamban, kabur, dan tidak jelas, maka inilah saatnya membangkitkan energi. Faktir untuk mengatasi kemalasan dan kelambanan adalah energi atau usaha. Pertanyaannya bukan apakah kita memiliki energi atau tidak. Jika menyangkut energi baitn, maka ia akan selalu ada dan tersedia. Contohnya, jika anda tertidur dan terlambat masuk kerja tapi anda tidak mengetahuinya, biasanya anda tidak akan bersedia bangun. Namun pada saat anda menyadari bahwa anda telah terlambat masuk kerja atau terlambat ujian, tiba-tiba saja dalam lima menit anda telah siap berangkat.
Darimana datangnya energi itu? Energi itu selalu ada, persoalannya adalah bagiaman memanggilnya dan persoalan dari tekad (kekuatan kemauan) untuk menggerakan dan membangkitkan kesadaran. Inilah yang perlu kita pelajari, yaitu untuk menghubungkan tekad yang sesuai untuk dapat membangkitkan energi tersebut kappa pun kita kehendaki. Tentu saja ada cara lain untuk memunculkan energi ini. Energi timbul dari apa yang kita sebut sebagai vitakka yaitu meningkatkan kekuatan pencatatan (secara batin).
Oleh karena itu, ketika anda tidak dapat menemukan gerakan naik dan turun (perut anda) karena anda sangat mengantuk, maka akan lebih bijaksana kiranya anda menggunakan metode ‘duduk-menyentuh’. Tentu saja karena rasa mengantuk, obyek duduk dan menyentuh anda rasakan juga tidak jelas. Oleh karena itu ana berpegang pada (obyek) yang lebih besar yaitu mencatat keseluruhan tubuh sebagai sedang duduk dan titik sentuhan yang dirasakan sebagai sedang menyentuh. Lalu anda meneruskan pencatatan secara teratur yaitu duduk – menyentuh, duduk- menyentuh, duduk- menyentuh.
Alternatif lainnya adalah menggunakan lebih banyak titik sentuh seperti duduk-menyentuh- menyentuh- menyentuh. Contoh titik sentuh adalah sentuhan pada bokong, kaki dan tangan. Anda juga dapat memilih titik sentuh secara terpola atau secara berurutan. Biasanya pada kasus kemalasan dan kelambanan yang sangat kuat, hal ini tidak akan efektif sama sekali kecuali anda cukup gigih.
Dengan tekad kuat, rintangan ini dapat dilalui, mungkin akan membutuhkan waktu beberapa saat. Mungkin tidak cukup hanya 5 atau 10 menit, tetapi bias 20 menit atau 30 menit unutk menembusanya. Namun sekali berhasil menembusnya, pikiran biasanya menjadi sangat jernih. Jika cara ini gagal juga, tentu saja anda sebaiknya melakukan meditasi jalan. Dalam meditasi jalan biasanya anda tidak akan mengantuk kecuali jika anda berjalan sangat perlahan. Itu dikarenakan obyek yang ada terlalu halus. Jika anda berjalan perlahan dan anda tidak dapat mengikutinya (secara batin), maka kemalasan akan berlanjut. Oleh karena itu maksud saya adalah berjalan dengan langkah yang agak besar, berjalan agak cepat, dengan sikap yang agak bebas. Jika anda tegang, kekakuan pikiran dapat mempengaruhi anda menjadi lesu. Lebih baik berjalan dengan lebih bebas, tidak terlalu lambat maupun sangat cepat, dan ambil langkah yang agak besar. Selang beberapa waktu ketika pikiran telah memiliki obyek untuk berpegang maka secara bertahap pikiran akan menjadi aktif kembali. Ketika pikiran telah diaktifkan, rasa mengantuk akan pergi dan energi akan kembali.
Tentu saja ini merupakan metode yang sederhana, Pada akhirnya kesemuanya terletak pada tekad, dan biasanya setelah beberapa hari, misalkan tiga atau empat hari, kemalasan dan kelambanan akan menghilang. Dalam kasus tertentu ia dapat berlangsung selama seminggu. Meskipun demikian jika anda tekun, rintangan ini akan menghilang setelah beberapa hari saja.
Rintangan lainnya yang muncul adalah keadaan berpikir dan kegelisahan. Di sini anda disarankan untuk mencatat ‘berpikir, berpikir’ dengan penuh kesadaran dan ia pun seharusnya menghilang. Sering, ketika kita mencatat ‘berpikir, berpikir’, ia tidak pergi juga.Kita mungkin saja mengatakan ‘berpikir, berpikir’ namun pada saat itu kita tidak sadar sepenuhnya. Jika anda sadar ketika anda mencatatnya, anda tidak akan berpikir lagi. Pikiran anda harus jernih dan sadar maka proses berpikir pun akan lenyap.
Kadangkala pada saat kita mencatat, proses berpikir menghilang lalu muncul kembali, ia menghilang lalu muncul kembali? Satu alasan yang mungkin adalah bahwa proses berpikir telah menghilang tapi masih ada kekotoran tertentu yang masih tertinggal. Ketika anda kembali mengamati naik turunnya perut, anda masih belum sadar sepenuhnya. Dalam pikiran anda masih ada sedikit keinginan, kemarahan, dan khayalan. Oleh karena itu, dalam kasus tertentu dimana proses berpikir itu sangat ‘bandel’ dan terus datang kembali, anda harus mencatat akar (sumber) dari pikiran itu (lobba, dosa, dan moha). Akar ini dicatat ketika anda mencatat proses berpikir itulah penyebab munculnya proses bnerpikir. Ketika anda mencatat (mengamati) proses berpikir dan bagaimana hal itu muncul, anda akan dapat menelusuri sumbernya. Yaitu apakah ia berasal dari keserakahan, kemarahan, kecemasan atau kekotoran-kekotoran negatif lainnya.
Anda juga akan dapat menemukan hal apa yang menyulitkan anda. Berkenaan dengan obyek, ia dapat berupa sesuatu yang spesifik atau yang umum. Obyek umum adalah dalam pengertian bahwa tidak ada obyek spesifik/khusus yang sedang anda pikirkan, hal ini dapat berupa semua yang ada didunia. Obyek spesifik artinya ada suatu hal yang mengganggu pikiran anda, oleh karena itu anda harus mengatasi masalah tersebut. Segera sesudah menemukan penyebabnya maka akan lebih mudah untuk memecahkan masalah itu. Jika itu hanyalah bentuk keserakahan atau kemarahan maka catatlah sebagai serakah, marah, kebodohan, dan seterusnya. Mencatat obyek yang lebih spesifik biasanya lebih efektif daripada obyek umum. Ini termasuk di dalam cittanupassana, yang berarti perhatian terhadap kesadaran, yang akan kita bahas lebih lanjut. Hal ini lebih berkaitan dalam merasakan keadaaan pikiran yang serakah, marah, berkhayal, malas, atau yang lain, dengan kesadaran yang jernih, sebagai suatu ‘bentuk’ dari pikiran dan juga sifat sadar dan keadaan pikiran. Jika hal tersebut dirasakan deng jelas maka biasanya ia akan lenyap dalam sekejap.
Akan tetapi, ada kasus dimana kekotoran ini sangat ‘bandel’. Jika kekotoran sangat kuta, anda harus mengatasinya dengan lebih bersungguh-sungguh. Contohnya orang-orang yang sedang dilanda masalah tertentu. Oleh karena itu di awal meditasi duduk disarankan untuk melakukan satu atau lebih apa yang kita sebut sebagai kosentrasi pendahuluan.
Keempat konsentrasi pendahuluan itu adalah yang pertama : Buddhanusati, yaitu mengingat kembali sifat-sifat luhur Sang Buddha. Meditasi ini dapat membantu kita mengatasi ketakutan, keragu-raguan dan kurangnya keyakinan.
Yang kedua : itu meditasi cinta-kasih (metta-bhavana). Meditasi ini membantu mengatasi kemarahan, niat jahat dan membangun ketenangan dan suasana yang harmonis di sekitar lingkungan tempat meditasi.
Yang ketiga : adalah meditasi pada kekotoran batin (asubha), ini bagi mereka yang memiliki kecenderungan nafsu atau gairah yang kuat.
Yang keempat adalah meditasi/perenungan pada kematian untuk mengatasi kegelesihan, kemalasan dan kepuasan akan diri sendiri. Termasuk di dalamnya yaitu meditasi pada kamma untuk mengatasi kegelisahan, rasa takut, kehilangan orang yang dicintai, kesedihan, dan sebagainya.
Seseorang tidak seharusnya menganggap remeh kekuatan meditasi pendahuluan ini meskipun mereka dianjurkan untuk melakukannya hanya selama lima sampai sepuluh menit pertama dari meditasi duduk. Jika ini dilakukan dengan baik maka ia akan mempertahankan pikiran anda, membuatnya tenang dan melakukannya dalam waktu yang cukup lama, maka semua pikiran, kegelisahan, dan rintangan dapat disingkirkan. kegelisahan timbul hanya pada tahap awal, ayitu satu atau dua hari pertama atau apda latihan yang pertama kalinya. Jika seseorang tidak mengetahui cara menghadapinya maka rintangan ini akan tampak sangat berat dan akan membuat mereka putus asa. Sebetulnya hal ini bukanlah persoalan yang besar.
Bagaimanapun, kita akan selalu harus menghadapi kelima rintangan ini selama kita belum menjadi seorang arahat. Ketika mereka muncul, ini adalah kesempatan kita unutk belajar menghadapinya. Jika anda seorang pemula dan belum belejar menghadapi mereka (kelima rintangan ini) sebelum anda pulang, maka anda akan selalu berhadapan dengan masalah ini. Belajar cara mengatasi mereka tidaklah bisa dengan seketika. Hal ini dipelajari perlahan-lahan. Anda tidak akan dapat mengalami keadaaan pikiran yang murni sebelum semua rintangan dan kekotoran ini telah dapat disingkirkan.
Sebagai contoh misalnya, mengantuk. Keadaan mengantuk mungkin hadir didalam pikiran dan anda mencatat ‘mengantuk, mengantuk, mengantuk’. Ia pun pergi tapi tidak seluruhnya. Semua kecenderungan ada di sana. Anda belum mencapai apa yang kita sebut sebagai konsentrasi menembus (upacara Samadhi) maka masih ada yang tersisa. Muncul dan lenyap, demikianlah ia datang kembalo. Hal ini seperti langit dimana matahari tetap disana, tapi lapisan tipis awan menghalangi sehingga anda tidak bisa melihat birunya langit. Hanya jika anda mencatatnya sampai tuntas dan ketika sekuruh rasa mengantuk hilang, anda baru mengetahui seperti apa langit biru itu sesungguhnya. Setelah itu matahari muncul, bersinar dengan cerahnya dan anda dapat melihat segala sesuatu di sekitar anda. .
Kelima rintangan adalah kemalasan dan kelambanan, keadaan pikiran yang berpikir, dan seterusnya. Untuk menyadari mereka adalah seperti membersihkan pikiran dari sampah. Ketika anda menyapu lantai, mulanya anda membuang dulu potongan yang besar, namun potongan yang kecil masih tersisa. Pekerjaan anda belum selesai dan ketika anda membuang potongan sampah yang lebih kecil, butiran debu masih ada yang tertinggal. Bahkan setelah sapuan yang pertama, di sana masih ada butiran debu yang tersisa.Maka usaha harus terus dipertahankan sampai seluruh rintangan dan kekotoran itu dapat disingkirkan. Hanya dengan demikianlah kesadaran (sati) menjadi jernih, terang, dan bercahaya. Seseorang harus menetapkan hati untuk mencapai tujuan mengatasi rintangan ini. Ini adalah tugas pertama dari seorang pemeditasi ketika mereka berlatih meditasi kesadaran (meditasi vipassana). Setelah dapat mengatasi hal ini, maka obyek utama akan menjadi lebih jelas.
Tamat
Sumber : Majalah Vipassana Tribune, Vol 7, November 1999, Malaysia.
Alih Bahasa : Budiman (Mutiara Dhamma XVII)
Diposting oleh
hohoho
di
00.56
0
komentar